Selasa, 15 April 2014

gak bisa jauh-jauh dari blogger, rela off beberapa waktu dulu u.u
sampai sekarangpun bukan sesosok orang yang pantas untukmu, tapi aku selalu memantaskan diri agar pantas untuk yang baik2 saja
mata ini seakan tak mampu berbicara lagi, tak mampu menangis . hanya mampu berdiam diri dalam keheningan dan kesunyian. berharap seorang malaikat datang menghampirinya dn menemaninya selama-lamanya  sampai disurga sana
pagi yang mendung, tiada senyuman dari sang mentari. telah lama dia menghilang dari pelupuk mata ini. rasa rindu hadir menyelimuti, tak kuasa menahan kerinduan. hanya ingin kembali bersua walau sekejab mata. akan kuabadikan dalam memori ingatan terindah. :)

Senin, 14 April 2014

gadis malang itu telah beberapa hari tak menampakkan wajahnya diluar rumahnya. ia merasa suntuk jika itu terus terjadi. tapi dia tidak mengerti apa yang harus dilakukan
lihatlah matahari telah bersinar ,matahari telah menampakkan cahayanya,senyumnya,yang menghiasai dunia, mengeluarkan dunia ini dari kegelapan,kedinginan. sementara engkau enggan keluar dari persembunyian? inikah duka? #b

Minggu, 13 April 2014


Surat Terakhir

Sisa air hujan masih terasa basah di halaman rumah berdinding biru muda. Halaman luas itu masih tampak segar menggeliat oleh sinar matahari yang mulai mengguyur. Disekitar rumah pohon-pohon mulai menampakkan diri, setelah sekian waktu kabut pagi enggan untuk pergi. Satu pohon yang menjulang tinggi mulai mengeringkan  daunnya yang basah oleh derai air hujan. Matahari mulai menjamah setiap helai daunnya. Burung-burung sibuk menari dari dahan satu ke dahan lainnya, seakan bertugas meramaikan upacara pagi. Beberapa yang lain telah pergi menncari makan karena hujan bulan Januari bisa sewaktu-waktu mengusirnya untuk segera kembali ke sarang.
Pagi itu seorang anak belasan tahun meninggalkan kamar menuju ruang makan.
 Sugeng enjang Pak, Bu”, sapa Nayla sembari tertawa ringan kepada kedua orang tuanya
Sugeng enjang Nduk ”,  kata ibu sesaat setelah Nayla menyapa.
            Pagi itu ibunya Nayla memasak makanan kesukaan Nayla yaitu nasi tiwul, pecel sama ikan. Karena senangnya Nayla memakan makanan itu dengan lahapnya.
Nduk-nduk makannya itu pelan-pelan saja udah persis maling dikejar hansip, nanti kalau tersedak siapa yang mau bantu? Alon-alon penting kelakon cah ayu, kamu ini kaya gak pernah makan nasi tiwul sama pecel saja Nduk”, gurau bapak Nayla
Nayla hanya tersenyum sambil memperbaiki cara makannya. Suasana hangat seperti itu selalu Nayla dapatkan, bahkan kehangatan keluarganya sudah dimulai dari bangun tidur. Mereka bertiga melaksanakan salat subuh berjamaah yang dipimpin bapak Nayla dan melanjutkan mengaji.
            Setelah mereka selesai sarapan, Nayla dan bapakya berangkat. Nayla pergi ke sekolah diantar oleh bapaknya yang kebetulan kantornya sejalur dengan lokasi sekolah Nayla.
***
            Pagi itu ketika Nayla sampai di sekolah ia melihat teman-temannya di depan mading. Mereka berebut tempat untuk melihat pengumuman. Sesekali ia melihat temannya yang tersenyum lalu pergi setelah  membaca pengumuman, ada juga yang ber-yah sambil berlalu.
“Nay, selamat ya kamu lolos” sapa sahabat Nayla. Namanya Surati, memang agak ndeso tapi cantiknya nomor satu di sekolah.
            Nayla mendapat kabar dari sahabatnya bahwa Nayla lolos dalam seleksi pra OSN sekolah dua hari yang lalu, dan ia berhak mewakili sekolah untuk berjuang pada ajang yang bergengsi itu. Nayla mengikuti OSN Fisika. Namun kabar buruknya Surati belum lolos dalam seleksi itu. Nayla pun meghibur sahabatnya itu agar tak usah bersedih hati, mungkin memang belum rezeki Surati. Lagi pula masih banyak seleksi yang Surati bisa ikut, karena Nayla tahu sahabatnya itu punya bakat tersendiri. Dulu Surati mewakili sekolahnya dalam bidang kesenian tari hingga tingkat provinsi. Membuat harum nama sekolah dan tentunya kedua orang tuanya sangat bangga karena memiliki anak yang berbakat. Tentu saja Nayla pada waktu itu juga sangat bangga pada Surati, itulah yang semakin membuat Nayla bercita-cita mengharumkan nama sekolah dan orang tuanya.            
            Tepat pukul 07:00 WIB bel sekolah berdering, anak-anak memasuki ruang kelas masing-masing. Mata pelajaran pertama Fisika, Nayla mendapat ucapan selamat dari  gurunya Pak Sugeng. Mulai hari itu ia diberi tahu bahwa bimbingan dimulai seusai jam efektif berakhir.  Pada jam 13:45 WIB Nayla menemui Pak Sugeng untuk memulai bimbingan. Beberapa jam kemudian ia selesai.
            Nayla bermaksud tidak akan memberi tahu kabar bahagia ini kepada orang tuanya, ia akan memberi tahu kabar ini ketika lolos seleksi berikutnya. Sesampainya di rumah Nayla ditegur ibunya karena pulang terlambat.
Nduk kenapa baru pulang? Ada jam tambahan apa tugas kelompok?”, tanya Ibu Nayla
“Iya Bu, tadi ada tugas kelompok dadakan harus diselesaikan”, jawab Nayla terpaksa berbohong
            Nayla lalu bergegas kekamarnya melepas kerudung, lalu berganti pakaian. Keikutsertaanya dalam OSN memacunya untuk  lebih giat belajar, waktunya dihabiskan di kamar bersama tumpukan-tumpukan buku di meja belajarnya. Tanpa terasa jam di kamar Nayla menunjukkan pukul 22:00 WIB. Nayla pun menghentikan belajarnya, lalu tidur. Malam itu terdengar suara ibu membuka pintu kamar Nayla, memastikannya telah selesai belajar. Ketika melihat Nayla yang sudah terbaring ibunya menghampiri Nayla dan mencium lembut kening Nayla, kemudian mematikan lampu kamar dan meninggalkan Nayla tertidur pulas.
***
Hari berganti hari tanpa lelah Nayla terus berlatih, agar ia bisa memberikan yang terbaik karena Nayla ingin semua bangga terhadapnya dan tanpa menggoreskan sedikitpun rasa kecewa terutama pada Pak Sugeng yang telah membimbing Nayla. Biasanya Nayla selesai bimbingan pukul setengah lima sore, sampai dirumah mandi, salat magrib, mengaji, makan malam lalu salat isya dan setelah itu Nayla belajar hingga dirinya kerap tertidur dan terbangun menjelang subuh berkumandang. Tanpa terasa seminggu terakhir Nayla begitu jarang berkumpul bersama keluarga kecilnya sehingga awal dari kisah yang menimpa keluarganya tak ia sadari. Nayla benar-benar hanya terfokus pada OSN. Di suatu pagi Nayla bertanya pada ibunya kenapa pagi itu bapaknya tidak ikut sarapan seperti biasanya.
“Bapak kemana Bu, dari tadi Nay gak lihat, sepagi ini masak sudah pergi gak kaya biasanya”, tanya Nayla pada ibunya.
 “Emm, Bapak kerumah Pakde Suryo katanya mau nyelesain urusan sama ada tugas dari kantor”, jawab ibu Nayla yang terpaksa berbohong pada anak satu-satunya itu, sebenarnya ibunya juga tidak tahu kemana bapaknya pergi itu hanya pesan singkat yang di dapat ibunya Nayla subuh tadi. Setelah sarapan itu selesai Nayla meminta izin pada ibunya untuk berangkat lebih awal.
Setiap hari Jumat Nayla memang harus berangkat lebih pagi untuk bimbingan, karena siangnya Pak Sugeng tidak bisa.
“Nay, kamu sudah bicara pada orang tuamu tentang OSN ini?”, tanya Pak Sugeng
 “Belum Pak, soalnya saya bermaksud memberi kejutan pada orang tua saya, saya akan memberi tahu jika saya lolos seleksi berikutnya, saya ingin membanggakan mereka. Terutama bapak saya, beliau sudah membanting tulang agar saya bisa sekolah disini, beliau merupakan tokoh yang saya idolakan selain ibu”, jawab Nayla
“Nayla pancen bekti sliramu, muga kawujud dening Gusti Allah”, kata Pak Sugeng.
“Amin”, jawab Nayla sambil mengerjakan soal yang diberikan Pak Sugeng
***
            Sepulangnya Nayla, ia melihat motor bapaknya terparkir di halaman rumah. Ia merasa senang karena Minggu ini Nayla akan di ajak berlibur ke rumah Pakde Suryo. Berkeliling Waduk Gajah Mungkur, pergi ke persawahan Pakde Suryo, itulah yang dijanjikan bapaknya Nayla tiga minggu yang lalu. Nayla pun mempercepat langkah kakinya hingga sampai di dalam rumah.
“Assalamu’alaikum Bapak, besuk Nay jadi diajak ke rumah Pakde Suryo kan? Nay pengen ke Waduk Gajah Mungkur, rumah Pakde kan gak jauh dari sana”, tanya Nayla tidak sabar
“Wa’alaikumsalam, eh Genduk  yang cantik ini sudah pulang. Tapi Bapak minta maaf besuk Bapak belum bisa, masih ada tugas dari kantor lagi pula Pakde Suryo masih sibuk macul di sawah”,  jawab bapak
“Besuk kan hari libur, tumben Bapak ada tugas dari kantor?”, tanya Nayla
            Bapaknya hanya tersenyum sambil berlalu dan menghidupkan motornya kemudian pergi lagi. Nayla memaklumi bapaknya yang pergi waktu itu. Siang itu Nayla menyempatkan membantu ibunya membereskan rumah, setelah itu ia beristirahat di kamarnya.
            Menit berganti jam, jam berganti hari dan dua hari sudah Nayla tidak melihat bapaknya di rumah. Pada malam kedua semenjak ketidakhadiran bapaknya di rumah, Nayla terbangun dari lelap tidurya karena tak tahan ingin ke kamar mandi padahal jam waker kamarnya baru menunjukkan pukul 2 dini hari. Dengan rasa kantuk yang menggelayut di mata Nayla, ia beranjak dari tempat tidurnya dan membuka pintu kamar lalu berjalan menuju kamar mandi. Ketika Nayla melewati ruang tamu, ia melihat ibunya tertidur di sofa.
 “Tumben banget Ibu tidur di sofa, Bapak apa belum pulang yah?”, ujar Nayla lirih
 Nayla tak tega membangunkan ibunya, tapi Nayla juga tidak tega membiarkan ibunya tertidur di sofa kedinginan. Akhirnya Nayla melangkahkan kaki menuju kamar ibunya untuk mengambilkan selimut dan bantal lalu memakaikannya. Nayla masih tak tega meninggalkan ibunya sendirian, ia pun memutuskan menemani ibunya tidur di sofa.
            Keesokan harinya ibu Nayla membangunkan Nayla untuk melaksanakan salat subuh.  Nayla pun bangkit dan bergegas mengambil air wudlu. Pagi itu Nayla yang memimpin salat subuh seusai salat lalu berdoa dan mengaji seperti biasa. Setelah Nayla dan ibunya salat subuh berjamaah ia bertanya pada ibunya “Bu kenapa semalam tidur di sofa Bapak gak pulang kerumah ya, Ibu menunggu Bapak?”
“Gak kok cah ayu, semalam ibu ketiduran. Bapakmu sudah berangkat sebelum kamu terbangun beliau tak tega membangunkanmu yang sedang tertidur pulas”, jawab ibunya
Entah apa yang terjadi pada ibunya Nayla, namun Nayla tak bisa memaksa ibunya untuk cerita padanya. Ibunya Nayla mulai terdiam setelah putrinya itu melontarkan pertanyaan yang tidak bisa dijawab. Tapi Nayla tahu pasti ibunya berbohong, semalam Nayla tidak melihat bapaknya saat Nayla mengambilkan selimut untuk ibunya di kamar.
            Setelah perbincangan itu selesai. Nayla lalu mandi,sarapan dan pergi ke sekolah. Itulah rutinitas yang selalu Nayla lakukan. Disekolah Nayla menceritakan apa yang dilihatnya semalam kepada sahabat karibnya Surati, karena baru kali ini Nayla melihat ibunya tertidur di sofa.
 “Mungkin memang benar Nay Ibumu ketiduran jangan suudzon dulu deh” ujar Surati
Perbincangan mereka terhenti karena bel pulang sekolah berdering. Hari itu Nayla minta izin kepada Pak Sugeng untuk tidak bimbingan.
            Siang itu mendung Nayla melangkah gontai keluar gerbang sekolah. Nayla menatap langit, kelabu seperti suasana hatinya. Tetesan air hujan menimpa Nayla, satu tetes, dua tetes. Di sekitar Nayla banyak orang berlari guna menghidari hujan, tapi Nayla memilih berjalan lambat-lambat. Berharap tetesan air mata Nayla dapat membaur dengan tetesan air matanya.
            Tepat di depan rumah Nayla mendengar suara bapaknya yang terlihat membentak ibunya. Langkah Nayla pun semakin gontai. Di dalam rumah ia mendapati kenyataan bahwa kedua orangtuanya sedang bertengkar hebat. Nayla mendapati bapaknya menampar keras pipi ibunya. Setelah bapaknya melihat kehadiran Nayla, bapaknya Nayla memalingkan muka lalu meninggalkan rumah lagi. Nayla memeluk erat ibunya, dan menyuruh ibunya untuk menceritakan semuanya. Tetapi ibunya menolak dan berjanji  akan cerita. Namun ibunya melepaskan pelukan Nayla lalu berlari ke kamar dan menutup pintu rapat-rapat. Nayla memahami keadaan ibunya dan meninggalkannya sendirian . Sejak saat itu pandangan Nayla kepada bapaknya mulai berubah, rasa benci mulai tumbuh di dada Nayla. Tapi Nayla mencoba menghilangkannya karena bagaimana pun beliau adalah bapak kandungnya.
            Keluarga itu sudah tidak seindah dulu, kini mulai sering merusak hingga ulu hati Nayla. Perasaan itu terasa sesak saat Nayla ingat kembali raut wajah dan tatapaan bapaknya. Bagai simfoni membisu di suatu keramaian, kini Nayla sendiri dalam sepi. Nayla terus mengikuti detak jarum jam yang terdengar di ruangan yang semakin sunyi. Saat Nayla tersadar bahwa semuanya semakin menjauh, hatinya pun semakin gelisah. Ia memutuskan menghampiri sahabatnya Surati, kebetulan rumah Surati tak begitu jauh dari kediaman Nayla.
“Ada apa Nay kenapa matamu sembab, nangisin apa?”, tanya Surati
“Aku mencoba tegar sekenanya. Aku benci lelaki itu yang menampar keras pipi dekat telinga ibuku dua kali. Alangkah durhakanya aku yang menginginkan perceraian kedua orang tuaku”, sahut Nayla tanpa menjawab pertanyaan Surati sambil menangis lagi.
Lho lho ana apa iki aku bingung,orang tuamu bertengkar?”, sahut Surati
“Iya, aku serasa sendirian senja yang ku puja berdua bukan denganku. Dan malam tempat pelukan dan peraduan di tawan nisan. Aku merindu kearifanmu”, ujar Nayla
“Nayla aku memang belum tahu bagaimana cara mengatasi hal seperti ini, tapi yang aku tahu menangis tidak akan menyelesaikan masalah, sebaiknya kamu ambil air wudlu dan meminta petunjuk pada-Nya”,  jawab Surati dengan bijak
Nayla pun menganggukkan kepala lalu pergi meninggalkan Surati.
 “Sesulit inikah cara Tuhan mengujiku, aku terseok di jalan yang sangat berkelok. Tak ada penghibur sesaatku di perjalanan, tak adakah gang atau percabangan jalan yang berlapang hati menerima bahu rapuh menyandar kala sedang berbelok” gumamnya dalam hati dalam perjalanan pulang
 Sesampainya di rumah Nayla masih melihat ibunya menutup diri dikamarnya, masih terdengar pula sisa isakan tangisnya. Sampai saat ini pun Nayla masih belum mengerti apa yang menyebabkan keluarganya berubah. Dulu bapak Nayla adalah seorang bapak yang menjadi pelabuhan hati untuk Nayla dan ibunya. Nayla ingin seperti dulu  bapak yang selalu membawa kebahagian, tak pernah gentar menggorekan senyuman. Tak pernah terbayangkan bapaknya akan seperti ini. Nayla kemudian mengambil air wudlu melakukan salat malam dan mencoba untuk tertidur, berharap ini semua hanya mimpi buruk, walaupun dengan mata terpejam namun Nayla masih saja mengeluarkan air mata, hingga akhirnya ia benar-benar tertidur.
Selepas Nayla terbangun rasanya dadanya berlubang, ditambah sejak beberapa hari terakhir ibu Nayla tidak banyak bicara wajahnya pun tampak pucat. Kebahagian keluarga itu rumpang sendirian. Banyak hati yang teronggok kapok. Tak ada  darah merah yang menyegarkan sembab-sembabnya, ini sudah sangat lama sejak tawa lupa jalan Nayla yang berduka. Mata Nayla menonjol dan menyatakan air matanya.
Tak berhenti hati Nayla mengagumi kecantikan ibunya yang ada di depannya,  matanya bening penuh dengan ketulusan, tatapannya fokus penuh dengan keikhlasan, wajahnya yang putih mulus membuat Nayla ingin bersujud di pipinya dan menyembah Tuhan seumur hidupnya, kecantikan ibu Nayla ditambah dengan mengenakan kerudung dan menutup rapat mahkota kepalanya, senyumnya yang manis yang selalu terlontar kepada sesamanya membuat Nayla yakin bahwa mahkluk ini atau ibunya itu adalah mahluk yang harus dilindungi dan tak pantas untuk disakiti. Tetapi malaikat pelindung itu pergi dan menyakiti ibunya, seakan membawa pergi pula kebahagian Nayla dan ibunya. Karena Nayla muak dengan semua yang terjadi Nayla memutuskan untuk menemui bapaknya entah dimana ia bisa menemuinya.
“Bu, Nayla izin pergi ke rumah Pakde Suryo ya, Nayla pengen cari udara segar”, kata Nayla pada ibunya.
 “Iya hati-hati ya Nduk, Ibu gak bisa nganter kamu”, jawab ibunya. Nayla hanya menganggukan kepala mengiyakan ucapan ibunya. Nayla berangkat sendiri kerumah Pakde Suryo yang terleak di selatan Kota Wonogiri dekat Waduk Gajah Mungkur. Dari halte menunggu bus lima menit, satu jam kemudian ia sampai dan berjalan menuju rumah Pakde Suryo.
“Assalamu’alaikum Mbokde, Pakde Suryo , ini Nay datang”, tegur Nayla pada mbokde dan pakdenya yang sedang mencabuti rumput di halaman rumah
“Wa’alaikumsalam, cah ayu ana apa iki? Kok ora ngabari Pakde apa Mbokde yen arep mrene?”, tanya Pakde Sugeng
Mboten Pakde, sebenarnya Nay kesini selain kangen suasana desanya Pakde, juga mau tahu kemana Bapak pergi, Bapak sekarang juga banyak berubah jadi kasar gak seperti yang Nay kenal dulu”, tanya Nayla dengan wajah sedih
            Pakde dan mbokde Nayla justru lempar pandang, seakan ada yang salah dengan pertanyaan Nayla. Tanpa banyak bicara mbokde Nayla masuk kedalam rumah. Sementara pakdenya mengalihkan pembicaraan. Mengajak Nayla mengintari persawahan yang tidak jauh dari rumah Pakde Suryo,tiga puluh menit mereka berjalan-jalan akhirnya kembali lagi ke rumah Pakde Suryo. Beberapa saat mbokde keluar dengan nampan yang berisi minuman dan kacang mete khas kota Wonogiri. Mbokde Nayla mengeluarkan secarik amplop  warna putih dari saku bajunya dan menyerahkannya pada Nayla. Nayla membuka amplop itu isinya selembar kertas, sepertinya Nayla paham betul tulisan siapa yang sedang ia baca. Ternyata memang benar itu surat dari bapak Nayla. Kata mbokdenya amplop itu dititipkan beberapa hari lalu saat bapaknya berkunjung kesana. Mengejutkan hati dan pikiran Nayla secarik kertas itu mampu membuatnya menangis menjadi-jadi. Pikiran dan hati Nayla kembali pada bapaknya yang membuat ia dan keluarganya bahagia. Nayla menyesal sempat berpikir buruk bahkan sempat membenci bapaknya itu.
“Ibu, Nayla jika kalian berdua membaca surat ini mungkin Bapak sudah pergi jauh, dan mungkin tidak akan kembali. Maafkan perlakuan Bapak yang sempat menampar Ibu, juga telah membohongi Ibu bahwa Bapak akan menceraikan Ibu dengan alasan ada wanita lain dihati Bapak. Maafkan  Bapak, itu semua bohong serta tamparan keras itu sengaja Bapak lakukan agar Nayla dan Ibu membenci Bapak. Bapak terpaksa melakukan ini, Bapak tidak mau menyakiti kalian berdua. Bapak mengidap kanker stadium akhir, kata dokter umur Bapak tidak lama. Bapak tahu panjangnya umur hanya Tuhan yang tahu, tapi menyiapkan kemungkinan terburuk bukanlah hal yang salah. Bapak tahu cara ini memang salah, namun ini adalah hal yang terbaik. Akhirnya waktu ini tiba Bapak pergi. Untuk Nayla jaga  Ibu baik-baik ya Nduk, lindungi dia seperti Bapak menjaga kalian. Nayla harus rajin belajar agar bisa mewujudkan cita-cita Nayla, buat Ibumu bangga. Bapak pasti juga ikut bangga jika Nayla berhasil, bapak akan selalu menjaga Nayla dari jauh”
            Setelah membaca surat itu Nayla meminta izin pada pakde dan mbokdenya untuk pulang kerumah memberikan kabar itu pada ibunya. Pakde Nayla mengantar  Nayla sampai ke halte.
            Sesampainya Nayla dirumah Nayla menyerahkan surat itu pada ibunya. Ibunya menangis sambil mendekap erat Nayla. Petang itu juga mereka berdua salat bersama dan membacakan doa-doa untuk bapaknya yang sudah meninggal.
***
            Setelah beberapa hari kesedihan itu mulai menghilang, tiba waktunya Nayla memberi tahu ibunya tentang Olimpiade Sains Nasional itu, hari itu waktunya Nayla bertarung Nayla diantar oleh Pak Sugeng ditemani ibunya. Babak demi babak dilalui Nayla dengan penuh percaya diri, hingga beberapa jam setelahnya kabar baik itu datang Nayla mendapat juara 2, walaupun tidak yang pertama tapi semua tetap bangga terhadap Nayla. Wajah Nayla dan ibunya berlinang air mata mengingat kembali bapak. Tapi mereka yakin di dunia yang berbeda bapak tersenyum bangga. Dalam benaknya Nayla bergumam “Tuhan sampaikan padanya bahwa aku menyayanginya, bahwa aku tidak akan menjadi apa-apa tanpanya. Tuhan sungguh aku berterima kasih padamu atas semua anugerah terindah yang kau berikan ini. Dan terima kasih kau berikan aku Ibu dan Bapak yang luar biasa. Terimakasih semuanya”


herlina, 16 Februari 2015
semua terasa indah ketika aku mengenalmu, dan semua itu juga hilang ketika kau pergi bay
menunggu bukanlah hal mudah, sakit terkadang jika terlalu lama berharap. satu akun yang mulai membuatku nyaman, tidak ada tempat untukku menaruh semua hal tentangmu, aku hanya bisa mengingatmu, tanpa bisa memilikimu, dan hanya harap kau dapat membaca setiap tulisanku untukmu, dan berharap pula kau akan kembali. aku takut sendiri, aku takut hilang, kehilangan citamu,bjp

Puing-puing Trauma
Dulu memang aku pernah befikir betapa kejamnya sesosok pria, dulu aku juga berfikir betapa lembutnya seorang pria. Itu semua terjadi ketika aku mengenal dua orang yang berbeda dan membuat dua pandangan yang berbeda pula. Waktu itu aku berfikir cukup keras untuk menghentikan pemikiranku mengenai pria jahat, dan mungkin saat itu dapat terbukti dan dapat terealisasikan. Namun kini aku sadar bahwa semua adalah sama. Mereka selalu saja ditakdirkan mempunyai jiwa yang keras. Mereka juga selalu memainkan logikanya. Tetapi wanita yang di kedepankan adalah perasaannya. Logika pria dan wanita mungkin sering tidak berjalan sebagaimana mestinya.
            Aku merasakan hal tersebut saat kehilangan Wilson yang meninggalkanku dengan beberapa alasan. Dulu aku sudah pernah bilang padanya untuk jangan mempunyai alasan apapun mencintaiku, karena alasan itulah yang akan membuatnya meninggalkanku. Dia meninggalkan ku dengan cara yang sadis dan teramat aneh. tidak hanya aku yang terejut, teman-temanku  tak menyangka itu terjadi padakku. Mengingat perjuangan  Wilson dulu merebut hati dan perhatianku. Semua orang mengira bahwa akulah yang memutuskan Wilson, hah entah apa yang terlintas dipikran Wilson saat itu. Sampai saat inipun ku masih menyimpan puing perasaan dan puing-puing trauma. Disisi lain aku benci dengannya tapi disisi lain aku mengaguminya melebihi kagum ku padaya yang dulu. Kini dia melihatku hanya sebelah mata, dan mungkin dia telah menemukan pengganti diriku. Sementara aku hanya secuil harapan dan sisa kenangan untuk mendapatkan Wilson kembali, aku terlanjur dan terlalu mencitainya. Ku biarkan perasaaku berjalan sebagaimana mestinya, hingga mungkin ini tidak akan ada ujungnya.
            Aku memang benar mencintai dan menyayanginya hingga tiba saat itu, aku seperti kehilangan gairah hidup.  Sekedar tersenyum terasa berat.logika sering tak berjalan dan dampak buruk mulai datang mempengaruhiku. Aku sadar dan aku paham yang aku lakukan ini sangat buruk. Namun aku tidak menampik jika aku masih mencintainya seperti yang dulu aku menyayanginya melebihi yang dulu dan aku sekarang adalah kenangan hidupnya. Mungkin kah dia memikirkanku, yang kufikirkan setiap bangun dan akan tidur hanya dia. Mulai saat itu aku mulai malas belajar dan menyukai yang namanya tidur . menurutku tidur sejenak dapat melupakan beban hidup dan aku suka itu. Dengan itu aku sejenak dapat melupakan Wilson. Haaaaah betapa bodohnya aku yang masih saja mengharapkannnya hadir kembali dalam hidupku. Mungkin bukan hal yang mustahil,  tapi ukan untuk waktu dekat ini juga. Mungkin untuk beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun lagi. Oh dapatkah aku membayangkan kesendirianku . hidupku sepi tanpanya mati tanpanya. Dan hambar tanya adanya senyum darinya untukku.
            Sungguh gila aku terlalu mencintainya, yang tak lagi mencintai diriku. Oh Tuhan aku hidup tidak untuk meratapi nasib tapi untuk meneruskan hidup. Membahagiakan orangtuaku, mengejar  cita-citaku. Mencapai setinggi langit. Satu harapan terbesarku adalah bahagia dunia akhirat, lebih-lebih masuk surga Tuhan, dengarkanlah aku dan sepercik kata-kataku. Mungkinkah aku hidup untuk ku sia-siakan karena aku hidup ingin bermanfaat.
            Hari berganti hari, sudah lebih dari sebulan aku kehilanganya. Waktu demi waktu yang kulalui tanpanya, membuatku merasakan hal yang berbeda tak seperti yang dulu.  Mungkin rasa yang ada di hatiku sudah mulai sirna. Sekarang sedikit demi sedikit aku mencoba untuk bangun dan berdiri meninggalkan kesedihanku yang dulu. Kini aku mulai bisa berfikir, akan kujadikan pengalaman untukku. Dan aku juga yakin akan kebesaran Tuhan , Tuhan tidak akan meguji hambanya di luar batas. Janji Tuhan adalah yang baik akan dapatyang baik, dan sebaliknya. Kini aku sedang  berusaha memperbaiki diri agar kualitas dan imanku meningkat. Seiring dengan itu aku juga berdoa mendapatkan pasangan yang lebih baik darinya kelak.
Aku sadar menunggu orang yang tak lagi mecintaiku adalah sebuah kesia-siaan
Menyayangi dan mencinntai seseorang tak perlu berlebihan
Cukup dengan kesederhanaan
Dan bila telah tiba waktunya.kita dapat melepasnya dengan keserhanaaa pula
Karena cinta yang hakiki adalah milik Tuhan semata
Setelah sekian lama aku tersadar dan paham dengan semua keadaan ini membuat aku tabah, yah benar kata teman-temanku aku memang sakit namun aku belajar tabah di depan mereka, aku hanya berusaha wanita hebat yang kuat. Kenapa harus galau berkepanjangan, aku masih punya masa depan yang panjang dan inilah aku .  This is me with all my awesome.
            Istirahat pertama adalah waktunya murid-murid mencari cemilan,tak dipungkiri bila saat itu canteen terasa penuh. Saat aku  hendak kembali ke kelas tak sengaja aku bertemu dengannya, karena terlalu ramai ya seperti di sinetron-sinetron itulah, kami mencoba saling memberikan jalan namun justru kami bertubrukan. Pada saat itu ada beberapa temanku melihat kejadian itu yang juga kebetulan berada di tempat kejadian, kemudian mereka berkata ciiiiiiiieee Wilson .
            Hari demi hari, minggu demi minggu, minggu berganti bulan tiba saatnya hari yang mungkin ditunggu oleh semua siswa apalagi jika bukan classmeeting, disana lah tempat semua siswa melepaskan penat setelah sekian hari menjalani hari-hari yang melelahkan selama satu semester. Tapi disana juga para siswa dag dig dug dan derrr sebentar lagi menerima hasil kerja keras mereka.
            Saat itu pertandingan antar kelas , kebetulan kelas ku mendapat giliran dengan waktu yang sama dengan kelas Wilson , tanpa sengaja aku sering bertemu dengannya  yang semakin mengingatkanku tentang masa laluku bersamanya. Masih teringat hari itu pertengahan classmeeting ada suatu kegiatan yang membuatku tercengang . saat itu juga rasanya aku ingin menangis sekencang-kencangnya, teriak sekeras mungkin medengar suil pesan singkat yang disampaikan seseorang. Intinya pesan tersebut dari Wilson untuk salah seorang temannya agar lekas menerima  cintanya. Entah aku harus percaya atau tidak rasanya aku  terpukul dan entah apa yang harus kuucap saat itu. Saat itu aku mencoba lari dari kenyataan dan mungkin juuga belum begitu menerima kenyaraan itu. Sesampainya dirumah aku tak kuasa menahan itu semua sendiri, aku meghubungi seseorang yang ku percaya untuk menyimpan rahasia ini. Aku menceritakan semua kejadian itu dan menceritkan semua perasaanku. Setelah kutuangkan itu semua aku mulai lega dan mulai menerima kenyataan bahwa  dia bukanlah yang terbaik untukku. Mulai saat itu aku mulai percaya lagi akan teoriku yang sempat pupus karena kuanggap Wilson adalah lelaki yang berbeda . laki-laki sama saja hanya bikin sakit hati. Tapi sejal saat itu juga aku mencoba memperbaki diri untuk terus berjuang, memperbaiki diri.
            Waktu terasa enggan berlalu, aku jatuh dan kini aku terpuruk dalam sedihku. Tak banyak yang tahu tak banyak,karna aku memang tak inginkan semuanya mengerti. Aku hanya mencoba menjadipribadi yang mandiri tak bergantung dengan orang lain. Sementara aku tidak bisa menahan semuanya sendiri aku butuh orang untuk ku bersandar dan tempatku berbagi.
"Tegaslah meletakkan masa lalu di masa lalu.

Jangan ijinkan penyesalan masa lalu Anda
melemahkan kehidupan Anda hari ini.

Masa lalu. Lupakan sakitnya, ingat pelajarannya.

Mario Teguh