Minggu, 13 April 2014


Puing-puing Trauma
Dulu memang aku pernah befikir betapa kejamnya sesosok pria, dulu aku juga berfikir betapa lembutnya seorang pria. Itu semua terjadi ketika aku mengenal dua orang yang berbeda dan membuat dua pandangan yang berbeda pula. Waktu itu aku berfikir cukup keras untuk menghentikan pemikiranku mengenai pria jahat, dan mungkin saat itu dapat terbukti dan dapat terealisasikan. Namun kini aku sadar bahwa semua adalah sama. Mereka selalu saja ditakdirkan mempunyai jiwa yang keras. Mereka juga selalu memainkan logikanya. Tetapi wanita yang di kedepankan adalah perasaannya. Logika pria dan wanita mungkin sering tidak berjalan sebagaimana mestinya.
            Aku merasakan hal tersebut saat kehilangan Wilson yang meninggalkanku dengan beberapa alasan. Dulu aku sudah pernah bilang padanya untuk jangan mempunyai alasan apapun mencintaiku, karena alasan itulah yang akan membuatnya meninggalkanku. Dia meninggalkan ku dengan cara yang sadis dan teramat aneh. tidak hanya aku yang terejut, teman-temanku  tak menyangka itu terjadi padakku. Mengingat perjuangan  Wilson dulu merebut hati dan perhatianku. Semua orang mengira bahwa akulah yang memutuskan Wilson, hah entah apa yang terlintas dipikran Wilson saat itu. Sampai saat inipun ku masih menyimpan puing perasaan dan puing-puing trauma. Disisi lain aku benci dengannya tapi disisi lain aku mengaguminya melebihi kagum ku padaya yang dulu. Kini dia melihatku hanya sebelah mata, dan mungkin dia telah menemukan pengganti diriku. Sementara aku hanya secuil harapan dan sisa kenangan untuk mendapatkan Wilson kembali, aku terlanjur dan terlalu mencitainya. Ku biarkan perasaaku berjalan sebagaimana mestinya, hingga mungkin ini tidak akan ada ujungnya.
            Aku memang benar mencintai dan menyayanginya hingga tiba saat itu, aku seperti kehilangan gairah hidup.  Sekedar tersenyum terasa berat.logika sering tak berjalan dan dampak buruk mulai datang mempengaruhiku. Aku sadar dan aku paham yang aku lakukan ini sangat buruk. Namun aku tidak menampik jika aku masih mencintainya seperti yang dulu aku menyayanginya melebihi yang dulu dan aku sekarang adalah kenangan hidupnya. Mungkin kah dia memikirkanku, yang kufikirkan setiap bangun dan akan tidur hanya dia. Mulai saat itu aku mulai malas belajar dan menyukai yang namanya tidur . menurutku tidur sejenak dapat melupakan beban hidup dan aku suka itu. Dengan itu aku sejenak dapat melupakan Wilson. Haaaaah betapa bodohnya aku yang masih saja mengharapkannnya hadir kembali dalam hidupku. Mungkin bukan hal yang mustahil,  tapi ukan untuk waktu dekat ini juga. Mungkin untuk beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun lagi. Oh dapatkah aku membayangkan kesendirianku . hidupku sepi tanpanya mati tanpanya. Dan hambar tanya adanya senyum darinya untukku.
            Sungguh gila aku terlalu mencintainya, yang tak lagi mencintai diriku. Oh Tuhan aku hidup tidak untuk meratapi nasib tapi untuk meneruskan hidup. Membahagiakan orangtuaku, mengejar  cita-citaku. Mencapai setinggi langit. Satu harapan terbesarku adalah bahagia dunia akhirat, lebih-lebih masuk surga Tuhan, dengarkanlah aku dan sepercik kata-kataku. Mungkinkah aku hidup untuk ku sia-siakan karena aku hidup ingin bermanfaat.
            Hari berganti hari, sudah lebih dari sebulan aku kehilanganya. Waktu demi waktu yang kulalui tanpanya, membuatku merasakan hal yang berbeda tak seperti yang dulu.  Mungkin rasa yang ada di hatiku sudah mulai sirna. Sekarang sedikit demi sedikit aku mencoba untuk bangun dan berdiri meninggalkan kesedihanku yang dulu. Kini aku mulai bisa berfikir, akan kujadikan pengalaman untukku. Dan aku juga yakin akan kebesaran Tuhan , Tuhan tidak akan meguji hambanya di luar batas. Janji Tuhan adalah yang baik akan dapatyang baik, dan sebaliknya. Kini aku sedang  berusaha memperbaiki diri agar kualitas dan imanku meningkat. Seiring dengan itu aku juga berdoa mendapatkan pasangan yang lebih baik darinya kelak.
Aku sadar menunggu orang yang tak lagi mecintaiku adalah sebuah kesia-siaan
Menyayangi dan mencinntai seseorang tak perlu berlebihan
Cukup dengan kesederhanaan
Dan bila telah tiba waktunya.kita dapat melepasnya dengan keserhanaaa pula
Karena cinta yang hakiki adalah milik Tuhan semata
Setelah sekian lama aku tersadar dan paham dengan semua keadaan ini membuat aku tabah, yah benar kata teman-temanku aku memang sakit namun aku belajar tabah di depan mereka, aku hanya berusaha wanita hebat yang kuat. Kenapa harus galau berkepanjangan, aku masih punya masa depan yang panjang dan inilah aku .  This is me with all my awesome.
            Istirahat pertama adalah waktunya murid-murid mencari cemilan,tak dipungkiri bila saat itu canteen terasa penuh. Saat aku  hendak kembali ke kelas tak sengaja aku bertemu dengannya, karena terlalu ramai ya seperti di sinetron-sinetron itulah, kami mencoba saling memberikan jalan namun justru kami bertubrukan. Pada saat itu ada beberapa temanku melihat kejadian itu yang juga kebetulan berada di tempat kejadian, kemudian mereka berkata ciiiiiiiieee Wilson .
            Hari demi hari, minggu demi minggu, minggu berganti bulan tiba saatnya hari yang mungkin ditunggu oleh semua siswa apalagi jika bukan classmeeting, disana lah tempat semua siswa melepaskan penat setelah sekian hari menjalani hari-hari yang melelahkan selama satu semester. Tapi disana juga para siswa dag dig dug dan derrr sebentar lagi menerima hasil kerja keras mereka.
            Saat itu pertandingan antar kelas , kebetulan kelas ku mendapat giliran dengan waktu yang sama dengan kelas Wilson , tanpa sengaja aku sering bertemu dengannya  yang semakin mengingatkanku tentang masa laluku bersamanya. Masih teringat hari itu pertengahan classmeeting ada suatu kegiatan yang membuatku tercengang . saat itu juga rasanya aku ingin menangis sekencang-kencangnya, teriak sekeras mungkin medengar suil pesan singkat yang disampaikan seseorang. Intinya pesan tersebut dari Wilson untuk salah seorang temannya agar lekas menerima  cintanya. Entah aku harus percaya atau tidak rasanya aku  terpukul dan entah apa yang harus kuucap saat itu. Saat itu aku mencoba lari dari kenyataan dan mungkin juuga belum begitu menerima kenyaraan itu. Sesampainya dirumah aku tak kuasa menahan itu semua sendiri, aku meghubungi seseorang yang ku percaya untuk menyimpan rahasia ini. Aku menceritakan semua kejadian itu dan menceritkan semua perasaanku. Setelah kutuangkan itu semua aku mulai lega dan mulai menerima kenyataan bahwa  dia bukanlah yang terbaik untukku. Mulai saat itu aku mulai percaya lagi akan teoriku yang sempat pupus karena kuanggap Wilson adalah lelaki yang berbeda . laki-laki sama saja hanya bikin sakit hati. Tapi sejal saat itu juga aku mencoba memperbaki diri untuk terus berjuang, memperbaiki diri.
            Waktu terasa enggan berlalu, aku jatuh dan kini aku terpuruk dalam sedihku. Tak banyak yang tahu tak banyak,karna aku memang tak inginkan semuanya mengerti. Aku hanya mencoba menjadipribadi yang mandiri tak bergantung dengan orang lain. Sementara aku tidak bisa menahan semuanya sendiri aku butuh orang untuk ku bersandar dan tempatku berbagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar