Desember 2011
“Putri, kak Rehan mau ngomong sesuatu sama kamu” kak Rehan mengawali
pembicaraannya malam itu “Iya kak, ngomong aja” jawabku singkat “Kakak
pengen jujur sama Putri” diam sejenak kemudian kak Rehan melanjutkan
kata-katanya “Setelah sekian hari dan berbagai cara, ternyata kakak
lebih cocok memposisikan kamu sebagai adek, kakak coba untuk lebih, tapi
nggak bisa, kakak sulit untuk menerima orang lain selagi orang yang
pernah singgah di hati kakak masih ada. Kakak minta maaf kalau ada yang
salah dengan kata-kata itu, kakak cuma pengen jujur aja. Hari-hari
kemarin bukan berarti kakak mempermainkan Putri, tapi kakak memang
pengen dekat sama Putri. Namun itu hanya bertahan sesaat” Ku cerna kata
demi kata dengan seksama dan aku mulai mengerti “Kak Ita?” hanya nama
itu yang ku ingat, seorang mantan yang selalu kak Rehan ceritakan padaku
“Iya, kakak jujur dari apa yang kakak rasakan, tapi jujur, kakak juga
nggak ingin kehilangan Putri, Putri udah ngajarin kakak banyak hal,
membalasnya pun rasanya tak sanggup, jangan merasa jauh dari kakak”
Sepertinya dia hanya berusaha menenangkan hatiku. Namun hati ini sudah
mulai berkecamuk, antara sedih, marah dan kecewa, mataku mulai
berkaca-kaca, dan aku memilih pergi meninggalkannya. Dia memutuskan
untuk tak menahan kepergianku.
Kejujuran yang begitu menyakitkan, hati ini terluka, aku sakit karena
kak Rehan, aku benci dia, aku benci kak Rehan, meski dia mengaku salah
karena terlalu jujur padaku, aku sakit karena aku sudah terlanjur
berharap, aku sakit karena kakak pernah membawaku terbang ke awan, lalu
hari ini ia menjatuhkanku ke jurang yang terdalam, hati ini benar-benar
sakit “Terbang tinggi resiko jatuh lebih sakit, jadi segala kemungkinan
harus disiapkan” terngiang aku dengan kata-kata itu dan hari ini itulah
yang terjadi.
Aku hanya bertahan beberapa hari dengan kemarahanku, tekad bulatku
untuk melupakannya, tak pernah bisa ku realisasikan, hubungan kita
kembali membaik, meski dia hanya menganggapku sebatas ‘Adek’. Kak Rehan
benar, aku takkan pernah bisa jauh darinya.
Januari 2012
Hari ini kak Rehan menemaniku membeli printer yang telah lama aku
impikan. Hujan lebat sore ini memberiku kesempatan untuk bisa lebih lama
bercengkrama dengannya.
Selain menyuruhku untuk menetralisir perasaan-perasaan aneh ini,
lagi-lagi ia bercerita tentang sang mantan dan aku harus menjadi
pendengar setianya “Meski kita berdua masih sama-sama saling mencintai,
tapi tak mungkin kita bersama lagi, karena dia sudah jadi milik orang
lain, lagi pula dari segi umur dia terpaut beberapa bulan lebih tua
dariku, karena itu kakak selalu berusaha berfikir lebih dewasa,
orientasi kakak saat ini adalah mengejar impian kakak untuk jadi
pengusaha sukses”. Cita-cita yang brilliant, inilah kata-kata yang sudah
lama tak ku dengar ‘jadi pengusaha sukses’. “Amin, do’aku menyertaimu”
cletukku, dia pun tersenyum simpul.
Hari sudah semakin senja, hujan tak kunjung reda, ritual sholat Ashar
belum terlaksana, akhirnya kita memutuskan untuk menyatu dengan air
hujan.
Februari 2012
Malam ini sakit gigi menyerangku, sakit yang belum pernah ku rasakan
seumur hidupku. Ku tak tahu siapa yang bisa mendengarkan jeritanku malam
ini, di malam yang sunyi ini, aku sendiri, mengerang kesakitan, mereka
sudah terlelap dalam mimpi-mimpinya, kak Rehan, ya.. hanya nama itu
yang ku ingat, semoga kak Rehan bisa membantuku, ku sadar dia takkan
bisa melakukan apa-apa untuk menyembuhkan sakit gigi ini, tapi paling
tidak, ia bisa membantu menenangkanku. Ku mulai mengumpulkan kekuatan
untuk menekan tuts-tuts di ponsel bututku ini, mulai merengek manja,
mengeluhkan sakit yang sedari tadi menyiksaku, tapi balasannya “Adek,
boleh kakak bertanya dulu?” “He’em” jawabku singkat “Adek udah tahu
hubungan kak Rehan sama mantan?” “Tahu, kak Rehan udah balikan kan sama
kak Ita” jawabku asal “Ya benar kita berdua udah balikan” Bak petir
menyambar di tengah awan yang cerah, rasanya malam ini aku tak bisa lagi
membedakan derasnya air mata ini karena aku yang sedang sakit gigi
ataukah karena remuknya hati ini.
“Emm, emang kalau kalian udah balikan, adek nggak bisa minta perhatian
kakak lagi donk?” dengan innocentnya ku bertanya seperti itu “Ya, nggak
papa sih, cuma semua ada batasnya” jawabnya “Kalau pacar ada mantan,
kalau saudara untuk selamanya” lanjutnya. Ingin rasanya ku bertanya
sejak kapan balikan? Gimana ceritanya? Tumben kakak nggak cerita? tapi
aku sudah tak sanggup menahan semua ini, untung saja hanya lewat pesan
singkat, jadi kak Rehan tak perlu tahu bagaimana ekspresi kekecewaanku
padanya “Selamat ya kak, moga kakak bahagia” dengan nada sok rela ku
memberi selamat atas kebahagiaan mereka, dan ia hanya membalas
kepura-puraanku itu dengan “Makasih atas pengertian Adek”, ku memilih
untuk mengakhiri acara Es-Em-Es-anku malam ini. Andai kak Rehan tahu aku
pengertian semata-mata karena aku sayang sama kakak.
Semalaman mata ini tak bisa terpejam, sakit gigi ini sudah tak lagi
terasa, karena sakit ini sudah pindah ke dasar hatiku yang terdalam.
Hati ini mulai memberontak. “Mereka Balikan” lalu apa arti beberapa
bulan kemarin, ia memberiku sejuta harapan seolah-olah rasa sayang itu
mulai ada untukku? Apa arti semua perhatian kak Rehan padaku selama ini?
“Jangan pernah merasa bahwa kak Rehan nggak sayang sama Putri, kak
Rehan sayang sama Putri” apa arti dari kata-kata itu? apa maksud dari
panggilan ‘sayang’ itu, kalau pada kenyataannya ia tak pernah bisa
menyayangiku? Sejuta pertanyaan berlarian di benakku. “Pelarian,
Pelampiasan” mungkin hanya itu jawaban yang paling tepat bagiku saat
ini, selama ini ia hanya mempermainkanku, aku hanyalah pelarian
sesaatnya, saat ia sudah berada di puncak patah hatinya, mendengar sang
mantan sudah menjadi milik orang lain, dia melampiaskan semuanya padaku,
namun saat semua rencana itu tiba-tiba dibatalkan, mereka langsung
balikan begitu saja tanpa peduli sedikitpun perasaanku, tanpa peduli
sakit hatiku. Dan masih sempat ia berdalih “Putri, Kak Rehan nggak
bermaksud mempermainkan perasaan kamu, kak Rehan hanya berusaha jujur
sama perasaan kakak”, ia bahkan tak pernah sadar bahwa ia telah
menyakiti perasaanku, menghancurkan hidupku.
Aku takkan seperih ini jika pelukan itu tak pernah menghangatkanku,
aku takkkan sekecewa ini jika ia tak pernah membawaku terbang ke atas
awan. Kenapa kak Rehan harus memberiku harapan dulu, baru kemudian
meninggalkanku begitu saja? Penyesalan, ya… penyesalan yang hanya bisa
ku ungkap lewat air mata. Luka ini tertoleh terlalu dalam dan tak mudah
menyembuhkannya.
Kak Rehan, sosok yang dulu membuatku hidup dengan penuh motivasi,
kini tak ada lagi, aku rindu kak Rehan yang dulu. Aku benci kak Rehan
yang sekarang, seorang yang telah menorehkan luka terdalam di hatiku,
bahkan kini ia telah membuatku membenci sosok orang yang sama sekali
belum aku kenal. Aku benci kak Rehan. Bahkan hingga detik ini aku masih
belum bisa memaafkannya. Hati ini terlalu sakit. I hate You, Rehan.
“Berdo’a aja, kakak akan selalu meng-AMIN-i do’a adek”, itu kata-kata
yang pernah kak Rehan ucapkan dulu. “Semoga aku bisa melupakan kak
Rehan” hanya itu do’aku saat ini.
Maret 2012
Untuk pertama kalinya aku merasakan getaran di hati ini saat bertemu
dengannya, getaran yang selama ini ku percaya bahwa itu adalah tanda
rasa sayang itu ada. “Getaran cinta di hatiku”, kenapa ia baru muncul
saat kak Rehan sudah pergi meninggalkanku dan tak mungkin kembali? Saat
kak Rehan sudah bahagia dengan orang yang ia sayangi?
Betapa bodohnya aku ini, kenapa rasa sayang ini masih bersarang di
hatiku, padahal rasanya sakit ini sudah mendarah daging, dimana harga
diriku sebagai perempuan? Kenapa aku serasa tak mengenali diriku sendiri
saat ini?
Malam ini sungguh tragis, kenapa aku harus melihat mereka berdua?
Kenapa ia harus tersenyum innocent padaku saat kita bertemu? air mata
ini seakan tak peduli dimana aku berada, sepanjang jalan, air bening ini
tak henti membanjiri pipiku. Air mata ini bukan karena senyuman tanpa
dosa itu, bukan karena cemburu atas kebersamaan mereka, tapi air mata
ini karena rasa kecewaku pada kak Rehan, dulu ia tak pernah punya waktu
untukku, bahkan untuk sekedar 5 menit bertemu, dulu hanya satu kata
“SIBUK” yang selalu ia persembahkan untukku, sibuk dikejar deadline
tugas kantor yang selalu menumpuk, namun saat ini semua seakan sudah tak
berlaku, waktunya selalu ada buat orang yang ia sayangi.
Dan saat ini aku tersadar, baik dulu, saat ini, maupun hari-hari
berikutnya aku bukanlah siapa-siapa baginya, aku tak pernah berarti
baginya, bahkan status ‘Adek’ pun, rasanya sudah tak ada gunanya lagi.
Hingga detik ini, aku tak mampu bangkit dari keterpurukanku, hidupku
hampa. Cinta, Luka, Penyesalan, semua itu selalu menghantuiku. Tugas
kuliahku terbengkalai, aku sama sekali tak punya semangat untuk
mengerjakan tugas akhir yang sebenarnya menjadi impian terbesarku, yang
menjadi harapan kedua orangtuaku dan orang-orang yang mengharapkan
kesuksesanku disana. Teman-temanku pun sudah berulang kali menegurku,
tak henti-hentinya mereka memotivasiku untuk bangkit, bahkan kak Rehan
sendiri sangat menyayangkan sikapku ini. Beberapa buku motivasi sudah ku
baca, aku sudah berusaha untuk bangkit, tapi semuanya tetap terasa
berat. Aku belum mampu untuk bangkit. Aku telah hancur. Benar-benar
hancur.
April 2012
Entah angin apa yang menggerakkan kakiku ke tempat ini, tempat yang
bagiku penuh kenangan, tempat dimana kak Rehan pertama kalinya
melantunkan ayat-ayat suci itu di sampingku, tempat aku merayakan Ultah
kak Rehan beberapa bulan lalu. Entahlah aku hanya ingin mengenang
masa-masa indah itu. “Kak kalau ada waktu nyusul ya” iseng aja ku
layangkan pesan singkat itu “Hari ini kakak sibuk dek, maaf ya…” huft…
Seharian ku habiskan waktuku di tempat ini, di tempat duduk yang sama
beberapa bulan lalu, kini kenangan manis itu tergambar jelas di benakku,
masih sempat-sempatnya aku berharap ia akan datang menyusulku kesini,
padahal ku tahu hal itu takkan pernah terjadi. Tak terasa air mata ini
mulai membasahi pipiku.
Matahari mulai enggan menampakkan dirinya, langit tiba-tiba berubah
menjadi gelap, awan hitam pun bermunculan seakan sudah siap mengguyur
bumi, suara petir mulai menderu dari segala penjuru. Aku lelah, aku
menyerah, kak Rehan takkan pernah datang menemuiku, semua itu hanya akan
menjadi mimpi, aku meninggalkan tempat ini dengan membawa sejuta
kenangan indah, juga sejuta kekecewaan, aku berjalan tanpa arah, tubuhku
lunglai, pandanganku mulai kabur dan “Bruak…” semuanya gelap.
—
“Aku dimana?” mataku terbuka, ruangan serba putih, ku dengar semua
orang mengucap syukur saat ku buka mata ini. “Kamu sudah bangun sayang”
Suara lembut Bunda menyapa, matanya tampak sembab, “Aku dimana? Kenapa
kalian semua ada disini” tanyaku “Kamu di rumah sakit sayang, tiga hari
yang lalu kamu kecelakaan, dan mengalami koma” jawab Bunda sesenggukan.
48 jam lebih aku koma, dan ini pertama kalinya aku membuka mata,
keluarga, sahabat, mereka semua ada disini untuk menungguku terbangun.
Sungguh terharu, tapi aku tak melihatnya, kak Rehan, ia dimana? kenapa
ia tak ada disini? Hati ini terus memanggilnya, walau mulut ini sudah
tak sanggup untuk menyuarakan namanya.
“Ayah, Bunda, maafin Putri, selama ini Putri nggak bisa membuat kalian
bangga” Ku genggam erat tangan mereka. “Sayang, kamu nggak usah mikir
macam-macam dulu, yang terpenting sekarang adalah Putri harus sembuh”
tangis Bundaku semakin menjadi. “Putri pengen tidur panjang Bunda”,
itulah kata-kata terakhir yang sempat ku ucapkan, sebelum ayah
menuntunku untuk melantunkan dua kalimat syahadat. Bahkan di detik-detik
terakhir hidupku, kak Rehan tak pernah datang menemuiku.
“Putri, bangun sayang” teriak Bundaku, “Inna Lillahi wa Inna Ilaihi
Roji’un” Banjir air matapun seketika menggenangi ruangan putih itu.
Tak ada do’a yang terindah yang ku lantunkan kecuali kebahagiaan
mereka, orang-orang yang ku sayangi. Ku harap tak akan ada lagi
perempuan bodoh seperti aku di dunia ini.
The End
Cerpen Karangan: Khoiriyatul Mukarromah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar