Kamis, 12 Maret 2015

Things get better, may Allah bless me. amiin
12 Maret 2015
Ketika Tuhan menguji disaat itulah kita harus bersabar, Tuhan pasti memberikan jalan. berdo'alah, tawakallah, ada jalan bagi hamba-Nya yang mau bersabar.

Senin, 16 Februari 2015

Short story : Surat Terakhir


Surat Terakhir

Sisa air hujan masih terasa basah di halaman rumah berdinding biru muda. Halaman luas itu masih tampak segar menggeliat oleh sinar matahari yang mulai mengguyur. Disekitar rumah pohon-pohon mulai menampakkan diri, setelah sekian waktu kabut pagi enggan untuk pergi. Satu pohon yang menjulang tinggi mulai mengeringkan  daunnya yang basah oleh derai air hujan. Matahari mulai menjamah setiap helai daunnya. Burung-burung sibuk menari dari dahan satu ke dahan lainnya, seakan bertugas meramaikan upacara pagi. Beberapa yang lain telah pergi menncari makan karena hujan bulan Januari bisa sewaktu-waktu mengusirnya untuk segera kembali ke sarang.
Pagi itu seorang anak belasan tahun meninggalkan kamar menuju ruang makan.
 Sugeng enjang Pak, Bu”, sapa Nayla sembari tertawa ringan kepada kedua orang tuanya
Sugeng enjang Nduk ”,  kata ibu sesaat setelah Nayla menyapa
            Pagi itu ibunya Nayla memasak makanan kesukaan Nayla yaitu nasi tiwul, pecel sama ikan. Karena senangnya Nayla memakan makanan itu dengan lahapnya.
Nduk-nduk makannya itu pelan-pelan saja udah persis maling dikejar hansip, nanti kalau tersedak siapa yang mau bantu? Alon-alon penting kelakon cah ayu, kamu ini kaya gak pernah makan nasi tiwul sama pecel saja Nduk”, gurau bapak Nayla
Nayla hanya tersenyum sambil memperbaiki cara makannya. Suasana hangat seperti itu selalu Nayla dapatkan, bahkan kehangatan keluarganya sudah dimulai dari bangun tidur. Mereka bertiga melaksanakan salat subuh berjamaah yang dipimpin bapak Nayla dan melanjutkan mengaji.
            Setelah mereka selesai sarapan, Nayla dan bapakya berangkat. Nayla pergi ke sekolah diantar oleh bapaknya yang kebetulan kantornya sejalur dengan lokasi sekolah Nayla.
***
            Pagi itu ketika Nayla sampai di sekolah ia melihat teman-temannya di depan mading. Mereka berebut tempat untuk melihat pengumuman. Sesekali ia melihat temannya yang tersenyum lalu pergi setelah  membaca pengumuman, ada juga yang ber-yah sambil berlalu.
“Nay, selamat ya kamu lolos” sapa sahabat Nayla. Namanya Surati, memang agak ndeso tapi cantiknya nomor satu di sekolah.
            Nayla mendapat kabar dari sahabatnya bahwa Nayla lolos dalam seleksi pra OSN sekolah dua hari yang lalu, dan ia berhak mewakili sekolah untuk berjuang pada ajang yang bergengsi itu. Nayla mengikuti OSN Fisika. Namun kabar buruknya Surati belum lolos dalam seleksi itu. Nayla pun meghibur sahabatnya itu agar tak usah bersedih hati, mungkin memang belum rezeki Surati. Lagi pula masih banyak seleksi yang Surati bisa ikut, karena Nayla tahu sahabatnya itu punya bakat tersendiri. Dulu Surati mewakili sekolahnya dalam bidang kesenian tari hingga tingkat provinsi. Membuat harum nama sekolah dan tentunya kedua orang tuanya sangat bangga karena memiliki anak yang berbakat. Tentu saja Nayla pada waktu itu juga sangat bangga pada Surati, itulah yang semakin membuat Nayla bercita-cita mengharumkan nama sekolah dan orang tuanya.            
            Tepat pukul 07:00 WIB bel sekolah berdering, anak-anak memasuki ruang kelas masing-masing. Mata pelajaran pertama Fisika, Nayla mendapat ucapan selamat dari  gurunya Pak Sugeng. Mulai hari itu ia diberi tahu bahwa bimbingan dimulai seusai jam efektif berakhir.  Pada jam 13:45 WIB Nayla menemui Pak Sugeng untuk memulai bimbingan. Beberapa jam kemudian ia selesai.
            Nayla bermaksud tidak akan memberi tahu kabar bahagia ini kepada orang tuanya, ia akan memberi tahu kabar ini ketika lolos seleksi berikutnya. Sesampainya di rumah Nayla ditegur ibunya karena pulang terlambat.
Nduk kenapa baru pulang? Ada jam tambahan apa tugas kelompok?”, tanya Ibu Nayla
“Iya Bu, tadi ada tugas kelompok dadakan harus diselesaikan”, jawab Nayla terpaksa berbohong
            Nayla lalu bergegas kekamarnya melepas kerudung, lalu berganti pakaian. Keikutsertaanya dalam OSN memacunya untuk  lebih giat belajar, waktunya dihabiskan di kamar bersama tumpukan-tumpukan buku di meja belajarnya. Tanpa terasa jam di kamar Nayla menunjukkan pukul 22:00 WIB. Nayla pun menghentikan belajarnya, lalu tidur. Malam itu terdengar suara ibu membuka pintu kamar Nayla, memastikannya telah selesai belajar. Ketika melihat Nayla yang sudah terbaring ibunya menghampiri Nayla dan mencium lembut kening Nayla, kemudian mematikan lampu kamar dan meninggalkan Nayla tertidur pulas.
***
Hari berganti hari tanpa lelah Nayla terus berlatih, agar ia bisa memberikan yang terbaik karena Nayla ingin semua bangga terhadapnya dan tanpa menggoreskan sedikitpun rasa kecewa terutama pada Pak Sugeng yang telah membimbing Nayla. Biasanya Nayla selesai bimbingan pukul setengah lima sore, sampai dirumah mandi, salat magrib, mengaji, makan malam lalu salat isya dan setelah itu Nayla belajar hingga dirinya kerap tertidur dan terbangun menjelang subuh berkumandang. Tanpa terasa seminggu terakhir Nayla begitu jarang berkumpul bersama keluarga kecilnya sehingga awal dari kisah yang menimpa keluarganya tak ia sadari. Nayla benar-benar hanya terfokus pada OSN. Di suatu pagi Nayla bertanya pada ibunya kenapa pagi itu bapaknya tidak ikut sarapan seperti biasanya.
“Bapak kemana Bu, dari tadi Nay gak lihat, sepagi ini masak sudah pergi gak kaya biasanya”, tanya Nayla pada ibunya.
 “Emm, Bapak kerumah Pakde Suryo katanya mau nyelesain urusan sama ada tugas dari kantor”, jawab ibu Nayla yang terpaksa berbohong pada anak satu-satunya itu, sebenarnya ibunya juga tidak tahu kemana bapaknya pergi itu hanya pesan singkat yang di dapat ibunya Nayla subuh tadi. Setelah sarapan itu selesai Nayla meminta izin pada ibunya untuk berangkat lebih awal.
Setiap hari Jumat Nayla memang harus berangkat lebih pagi untuk bimbingan, karena siangnya Pak Sugeng tidak bisa.
“Nay, kamu sudah bicara pada orang tuamu tentang OSN ini?”, tanya Pak Sugeng
 “Belum Pak, soalnya saya bermaksud memberi kejutan pada orang tua saya, saya akan memberi tahu jika saya lolos seleksi berikutnya, saya ingin membanggakan mereka. Terutama bapak saya, beliau sudah membanting tulang agar saya bisa sekolah disini, beliau merupakan tokoh yang saya idolakan selain ibu”, jawab Nayla
“Nayla pancen bekti sliramu, muga kawujud dening Gusti Allah”, kata Pak Sugeng.
“Amin”, jawab Nayla sambil mengerjakan soal yang diberikan Pak Sugeng
***
            Sepulangnya Nayla, ia melihat motor bapaknya terparkir di halaman rumah. Ia merasa senang karena Minggu ini Nayla akan di ajak berlibur ke rumah Pakde Suryo. Berkeliling Waduk Gajah Mungkur, pergi ke persawahan Pakde Suryo, itulah yang dijanjikan bapaknya Nayla tiga minggu yang lalu. Nayla pun mempercepat langkah kakinya hingga sampai di dalam rumah.
“Assalamu’alaikum Bapak, besuk Nay jadi diajak ke rumah Pakde Suryo kan? Nay pengen ke Waduk Gajah Mungkur, rumah Pakde kan gak jauh dari sana”, tanya Nayla tidak sabar
“Wa’alaikumsalam, eh Genduk  yang cantik ini sudah pulang. Tapi Bapak minta maaf besuk Bapak belum bisa, masih ada tugas dari kantor lagi pula Pakde Suryo masih sibuk macul di sawah”,  jawab bapak
“Besuk kan hari libur, tumben Bapak ada tugas dari kantor?”, tanya Nayla
            Bapaknya hanya tersenyum sambil berlalu dan menghidupkan motornya kemudian pergi lagi. Nayla memaklumi bapaknya yang pergi waktu itu. Siang itu Nayla menyempatkan membantu ibunya membereskan rumah, setelah itu ia beristirahat di kamarnya.
            Menit berganti jam, jam berganti hari dan dua hari sudah Nayla tidak melihat bapaknya di rumah. Pada malam kedua semenjak ketidakhadiran bapaknya di rumah, Nayla terbangun dari lelap tidurya karena tak tahan ingin ke kamar mandi padahal jam waker kamarnya baru menunjukkan pukul 2 dini hari. Dengan rasa kantuk yang menggelayut di mata Nayla, ia beranjak dari tempat tidurnya dan membuka pintu kamar lalu berjalan menuju kamar mandi. Ketika Nayla melewati ruang tamu, ia melihat ibunya tertidur di sofa.
 “Tumben banget Ibu tidur di sofa, Bapak apa belum pulang yah?”, ujar Nayla lirih
 Nayla tak tega membangunkan ibunya, tapi Nayla juga tidak tega membiarkan ibunya tertidur di sofa kedinginan. Akhirnya Nayla melangkahkan kaki menuju kamar ibunya untuk mengambilkan selimut dan bantal lalu memakaikannya. Nayla masih tak tega meninggalkan ibunya sendirian, ia pun memutuskan menemani ibunya tidur di sofa.
            Keesokan harinya ibu Nayla membangunkan Nayla untuk melaksanakan salat subuh.  Nayla pun bangkit dan bergegas mengambil air wudlu. Pagi itu Nayla yang memimpin salat subuh seusai salat lalu berdoa dan mengaji seperti biasa. Setelah Nayla dan ibunya salat subuh berjamaah ia bertanya pada ibunya “Bu kenapa semalam tidur di sofa Bapak gak pulang kerumah ya, Ibu menunggu Bapak?”
“Gak kok cah ayu, semalam ibu ketiduran. Bapakmu sudah berangkat sebelum kamu terbangun beliau tak tega membangunkanmu yang sedang tertidur pulas”, jawab ibunya
Entah apa yang terjadi pada ibunya Nayla, namun Nayla tak bisa memaksa ibunya untuk cerita padanya. Ibunya Nayla mulai terdiam setelah putrinya itu melontarkan pertanyaan yang tidak bisa dijawab. Tapi Nayla tahu pasti ibunya berbohong, semalam Nayla tidak melihat bapaknya saat Nayla mengambilkan selimut untuk ibunya di kamar.
            Setelah perbincangan itu selesai. Nayla lalu mandi,sarapan dan pergi ke sekolah. Itulah rutinitas yang selalu Nayla lakukan. Disekolah Nayla menceritakan apa yang dilihatnya semalam kepada sahabat karibnya Surati, karena baru kali ini Nayla melihat ibunya tertidur di sofa.
 “Mungkin memang benar Nay Ibumu ketiduran jangan suudzon dulu deh” ujar Surati
Perbincangan mereka terhenti karena bel pulang sekolah berdering. Hari itu Nayla minta izin kepada Pak Sugeng untuk tidak bimbingan.
            Siang itu mendung Nayla melangkah gontai keluar gerbang sekolah. Nayla menatap langit, kelabu seperti suasana hatinya. Tetesan air hujan menimpa Nayla, satu tetes, dua tetes. Di sekitar Nayla banyak orang berlari guna menghidari hujan, tapi Nayla memilih berjalan lambat-lambat. Berharap tetesan air mata Nayla dapat membaur dengan tetesan air matanya.
            Tepat di depan rumah Nayla mendengar suara bapaknya yang terlihat membentak ibunya. Langkah Nayla pun semakin gontai. Di dalam rumah ia mendapati kenyataan bahwa kedua orangtuanya sedang bertengkar hebat. Nayla mendapati bapaknya menampar keras pipi ibunya. Setelah bapaknya melihat kehadiran Nayla, bapaknya Nayla memalingkan muka lalu meninggalkan rumah lagi. Nayla memeluk erat ibunya, dan menyuruh ibunya untuk menceritakan semuanya. Tetapi ibunya menolak dan berjanji  akan cerita. Namun ibunya melepaskan pelukan Nayla lalu berlari ke kamar dan menutup pintu rapat-rapat. Nayla memahami keadaan ibunya dan meninggalkannya sendirian . Sejak saat itu pandangan Nayla kepada bapaknya mulai berubah, rasa benci mulai tumbuh di dada Nayla. Tapi Nayla mencoba menghilangkannya karena bagaimana pun beliau adalah bapak kandungnya.
            Keluarga itu sudah tidak seindah dulu, kini mulai sering merusak hingga ulu hati Nayla. Perasaan itu terasa sesak saat Nayla ingat kembali raut wajah dan tatapaan bapaknya. Bagai simfoni membisu di suatu keramaian, kini Nayla sendiri dalam sepi. Nayla terus mengikuti detak jarum jam yang terdengar di ruangan yang semakin sunyi. Saat Nayla tersadar bahwa semuanya semakin menjauh, hatinya pun semakin gelisah. Ia memutuskan menghampiri sahabatnya Surati, kebetulan rumah Surati tak begitu jauh dari kediaman Nayla.
“Ada apa Nay kenapa matamu sembab, nangisin apa?”, tanya Surati
“Aku mencoba tegar sekenanya. Aku benci lelaki itu yang menampar keras pipi dekat telinga ibuku dua kali. Alangkah durhakanya aku yang menginginkan perceraian kedua orang tuaku”, sahut Nayla tanpa menjawab pertanyaan Surati sambil menangis lagi.
Lho lho ana apa iki aku bingung,orang tuamu bertengkar?”, sahut Surati
“Iya, aku serasa sendirian senja yang ku puja berdua bukan denganku. Dan malam tempat pelukan dan peraduan di tawan nisan. Aku merindu kearifanmu”, ujar Nayla
“Nayla aku memang belum tahu bagaimana cara mengatasi hal seperti ini, tapi yang aku tahu menangis tidak akan menyelesaikan masalah, sebaiknya kamu ambil air wudlu dan meminta petunjuk pada-Nya”,  jawab Surati dengan bijak
Nayla pun menganggukkan kepala lalu pergi meninggalkan Surati.
 “Sesulit inikah cara Tuhan mengujiku, aku terseok di jalan yang sangat berkelok. Tak ada penghibur sesaatku di perjalanan, tak adakah gang atau percabangan jalan yang berlapang hati menerima bahu rapuh menyandar kala sedang berbelok” gumamnya dalam hati dalam perjalanan pulang
 Sesampainya di rumah Nayla masih melihat ibunya menutup diri dikamarnya, masih terdengar pula sisa isakan tangisnya. Sampai saat ini pun Nayla masih belum mengerti apa yang menyebabkan keluarganya berubah. Dulu bapak Nayla adalah seorang bapak yang menjadi pelabuhan hati untuk Nayla dan ibunya. Nayla ingin seperti dulu  bapak yang selalu membawa kebahagian, tak pernah gentar menggorekan senyuman. Tak pernah terbayangkan bapaknya akan seperti ini. Nayla kemudian mengambil air wudlu melakukan salat malam dan mencoba untuk tertidur, berharap ini semua hanya mimpi buruk, walaupun dengan mata terpejam namun Nayla masih saja mengeluarkan air mata, hingga akhirnya ia benar-benar tertidur.
Selepas Nayla terbangun rasanya dadanya berlubang, ditambah sejak beberapa hari terakhir ibu Nayla tidak banyak bicara wajahnya pun tampak pucat. Kebahagian keluarga itu rumpang sendirian. Banyak hati yang teronggok kapok. Tak ada  darah merah yang menyegarkan sembab-sembabnya, ini sudah sangat lama sejak tawa lupa jalan Nayla yang berduka. Mata Nayla menonjol dan menyatakan air matanya.
Tak berhenti hati Nayla mengagumi kecantikan ibunya yang ada di depannya,  matanya bening penuh dengan ketulusan, tatapannya fokus penuh dengan keikhlasan, wajahnya yang putih mulus membuat Nayla ingin bersujud di pipinya dan menyembah Tuhan seumur hidupnya, kecantikan ibu Nayla ditambah dengan mengenakan kerudung dan menutup rapat mahkota kepalanya, senyumnya yang manis yang selalu terlontar kepada sesamanya membuat Nayla yakin bahwa mahkluk ini atau ibunya itu adalah mahluk yang harus dilindungi dan tak pantas untuk disakiti. Tetapi malaikat pelindung itu pergi dan menyakiti ibunya, seakan membawa pergi pula kebahagian Nayla dan ibunya. Karena Nayla muak dengan semua yang terjadi Nayla memutuskan untuk menemui bapaknya entah dimana ia bisa menemuinya.
“Bu, Nayla izin pergi ke rumah Pakde Suryo ya, Nayla pengen cari udara segar”, kata Nayla pada ibunya.
 “Iya hati-hati ya Nduk, Ibu gak bisa nganter kamu”, jawab ibunya. Nayla hanya menganggukan kepala mengiyakan ucapan ibunya. Nayla berangkat sendiri kerumah Pakde Suryo yang terleak di selatan Kota Wonogiri dekat Waduk Gajah Mungkur. Dari halte menunggu bus lima menit, satu jam kemudian ia sampai dan berjalan menuju rumah Pakde Suryo.
“Assalamu’alaikum Mbokde, Pakde Suryo , ini Nay datang”, tegur Nayla pada mbokde dan pakdenya yang sedang mencabuti rumput di halaman rumah
“Wa’alaikumsalam, cah ayu ana apa iki? Kok ora ngabari Pakde apa Mbokde yen arep mrene?”, tanya Pakde Sugeng
Mboten Pakde, sebenarnya Nay kesini selain kangen suasana desanya Pakde, juga mau tahu kemana Bapak pergi, Bapak sekarang juga banyak berubah jadi kasar gak seperti yang Nay kenal dulu”, tanya Nayla dengan wajah sedih
            Pakde dan mbokde Nayla justru lempar pandang, seakan ada yang salah dengan pertanyaan Nayla. Tanpa banyak bicara mbokde Nayla masuk kedalam rumah. Sementara pakdenya mengalihkan pembicaraan. Mengajak Nayla mengintari persawahan yang tidak jauh dari rumah Pakde Suryo,tiga puluh menit mereka berjalan-jalan akhirnya kembali lagi ke rumah Pakde Suryo. Beberapa saat mbokde keluar dengan nampan yang berisi minuman dan kacang mete khas kota Wonogiri. Mbokde Nayla mengeluarkan secarik amplop  warna putih dari saku bajunya dan menyerahkannya pada Nayla. Nayla membuka amplop itu isinya selembar kertas, sepertinya Nayla paham betul tulisan siapa yang sedang ia baca. Ternyata memang benar itu surat dari bapak Nayla. Kata mbokdenya amplop itu dititipkan beberapa hari lalu saat bapaknya berkunjung kesana. Mengejutkan hati dan pikiran Nayla secarik kertas itu mampu membuatnya menangis menjadi-jadi. Pikiran dan hati Nayla kembali pada bapaknya yang membuat ia dan keluarganya bahagia. Nayla menyesal sempat berpikir buruk bahkan sempat membenci bapaknya itu.
“Ibu, Nayla jika kalian berdua membaca surat ini mungkin Bapak sudah pergi jauh, dan mungkin tidak akan kembali. Maafkan perlakuan Bapak yang sempat menampar Ibu, juga telah membohongi Ibu bahwa Bapak akan menceraikan Ibu dengan alasan ada wanita lain dihati Bapak. Maafkan  Bapak, itu semua bohong serta tamparan keras itu sengaja Bapak lakukan agar Nayla dan Ibu membenci Bapak. Bapak terpaksa melakukan ini, Bapak tidak mau menyakiti kalian berdua. Bapak mengidap kanker stadium akhir, kata dokter umur Bapak tidak lama. Bapak tahu panjangnya umur hanya Tuhan yang tahu, tapi menyiapkan kemungkinan terburuk bukanlah hal yang salah. Bapak tahu cara ini memang salah, namun ini adalah hal yang terbaik. Akhirnya waktu ini tiba Bapak pergi. Untuk Nayla jaga  Ibu baik-baik ya Nduk, lindungi dia seperti Bapak menjaga kalian. Nayla harus rajin belajar agar bisa mewujudkan cita-cita Nayla, buat Ibumu bangga. Bapak pasti juga ikut bangga jika Nayla berhasil, bapak akan selalu menjaga Nayla dari jauh”
            Setelah membaca surat itu Nayla meminta izin pada pakde dan mbokdenya untuk pulang kerumah memberikan kabar itu pada ibunya. Pakde Nayla mengantar  Nayla sampai ke halte.
            Sesampainya Nayla dirumah Nayla menyerahkan surat itu pada ibunya. Ibunya menangis sambil mendekap erat Nayla. Petang itu juga mereka berdua salat bersama dan membacakan doa-doa untuk bapaknya yang sudah meninggal.
***
            Setelah beberapa hari kesedihan itu mulai menghilang, tiba waktunya Nayla memberi tahu ibunya tentang Olimpiade Sains Nasional itu, hari itu waktunya Nayla bertarung Nayla diantar oleh Pak Sugeng ditemani ibunya. Babak demi babak dilalui Nayla dengan penuh percaya diri, hingga beberapa jam setelahnya kabar baik itu datang Nayla mendapat juara 2, walaupun tidak yang pertama tapi semua tetap bangga terhadap Nayla. Wajah Nayla dan ibunya berlinang air mata mengingat kembali bapak. Tapi mereka yakin di dunia yang berbeda bapak tersenyum bangga. Dalam benaknya Nayla bergumam “Tuhan sampaikan padanya bahwa aku menyayanginya, bahwa aku tidak akan menjadi apa-apa tanpanya. Tuhan sungguh aku berterima kasih padamu atas semua anugerah terindah yang kau berikan ini. Dan terima kasih kau berikan aku Ibu dan Bapak yang luar biasa. Terimakasih semuanya”


herlina

Survival


I
ni bukan hal terluar biasa di dunia, tapi ini mampu membuat mata saya terbuka, bahwa banyak sekali hal di dunia ini yang belum saya tahu dan saya jalani. Ini saat dimana saya dituntut mampu sekalipun dunia gelap. Entah itu jurang atau bukit, saya tidak peduli. Itu malam sunyi dimana saya dan teman-teman saya terkejut dan ketakutan di dalam dinginnya malam. Awal dari kisah yang menegangkanpun dimulai. Malam itu sepenggal dari sejumlah agenda yang akan diadakan dalam perkemahan dimana saya dan teman-teman lainnya menjadi anggota pramuka. Tujuan dari agenda kegiatan yang satu ini adalah melatih kami untuk bertahan hidup dengan bekal terbatas untuk kebutuhan satu regu.
Seperti agenda perkemahan di sekolah menengah pertama pada umumnya ,perkemahan kali itu diisi dengan agenda outbond,mencari jejak,mendirikan tenda, permainan dan diakhiri dengan pesta api unggun. Itu adalah malam pertama perkemahan kami, setelah sesi istirahat, shalat, makan atau sering disebut ishoma yang diisi dengan mandi dan makan, kami kembali ke bumi perkemahan. Kami kira setelahnya akan diadakan api unggun, tapi ternyata tidak. Malam itu akan diisi dengan pentas seni para peserta perkemahan, baik kelas tujuh maupun kelas delapan. Menjelang acara pentas seni akan dimulai ada beberapa senior yang memanggil sebagian dari anak kelas delapan. Dan saat itu kami belum tahu alasannya untuk apa, setelah diberi pengarahan ternyata kami di ambil untuk mengikuti  sesi survival. Kami adalah peserta survival periode pertama, karena agenda survival ini baru diselenggrakan untuk yang pertama kalinya. Hal ini cukup membuat kami merasa takut. Kami serasa seperti anggota tentara karena wajah kami di lumuri dengan entah apa itu namanya sehingga menjadi hitam semua. Seniorpun mengharuskan kami menggunakan jaket besar berwarna hitam pula. Setelah keperluan sudah siap  kami berkumpul, terasa sangat kental campuran antara penasaran, takut, tegang, khawatir, dan tertantang.    Senior mengajak kami berjalan melewati jalan desa dan memasuki suatu area yang dipenuhi pohon-pohon besar. Lahan itu memiliki kontur yang terjal, jurang yang cukup curam dan bersinggungan langsung dengan pagar kuburan tua. Kegiatan pokok dari agenda survival adalah membuat mie dan kopi untuk beregu. Namun senior memberikan peraturan tambahan bahwa apabila kami mendengar bunyi peluit, itu tandanya bahwa kami harus segera bersembunyi. Dan bila mendegar bunyi peluit lagi itu tandanya harus kembali. Permainan di mulai.
Kami mulai memasak mie instan dengan peralatan yang telah kami bawa. Tiba- tiba terdengar suara peluit, kami langsung bersembunyi tanpa memikirkan masakan kami. Dari tempat persembunyian yang berbeda antar anggota yang lain, saya melihat secercah cahaya terang merah kekuning-kuningan mirip warna api. Tapi saya masih tetap di persembunyian saya tanpa melakukan apapun. Bunyi peluit kedua, kami kembali ke tempat dimana kami memasak dan ternyata kain yang menjadi salah satu peralatan survival milik Marta terbakar. Ia pun menangis. Kamipun menenangkannya. Tapi ternyata ada alasan lain di balik tangisannya yang tidak kami ketahui. Itu adalah kain peninggalan dari neneknya. Kami benar-benar merasa bersalah atas kainnya, tapi bagaimana lagi itu semua sudah terjadi. Ia pun mulai mengerti bahwa ini diluar kendali kami. Kamipun memakan hasil masakan kami. Mungkin jika ini bukan agenda survival, dan ada makanan lain, kami tidak akan memakan mie buatan kami ini. Mengenaskan. Mie kami bercampur dengan entah itu tanah, pasir atau hal lainnya. Tak tahan kami dengan perut yang belum terisi makanan apapun,akhirnya mie yang masih berserakan di atas piring kami makan sedikit. Setelah beberapa saat disadari perut kami terasa mual karena sebenarnya mie tadi belum masak betul,akhirnya kami membuang sisa mie tersebut, dengan harapan tidak diketahui siapapun selain anggota kami.
 Kami ketahuan. “Dek kenapa makanan ini dibuang, ini itu makanan dek tidak untuk dibuang dengan percuma. Apa kalian tidak bersyukur masih bisa makan, sementara di luar sana masih banyak orang yang berhari-hari belum makan”, ucap salah satu senior perempuan. Wajah kami tegang dan tak mampu menjawab sederet pertanyaan itu. Tetapi dalam lubuk hati kami menjawab sendainya kakak mengerti apa yang terjadi pada makanan kami, kami yakin kakak pasti  juga tidak akan memakannya. Setelah kami terdiam beberapa saat, akhirnya sang senior pergi meninggalkan regu kami, kami merasa begitu lega.
Selanjutnya adalah waktunya kami membuat kopi untuk menghangatkan badan. Maklum saja kami bersurvival di malam hari di tengah pepohonan  besar dan angin bertiup dengan begitu dinginnya. Dengan sisa air yang ada kami membuat kopi. Saat sudah selesai dan siap di minum peluit seniorpun berbunyi, kami bergegas bersembunyi . Dalam keadaan berlari mencari persembunyian hati saya berkata semoga hal yang tak kami inginkan tak terjadi lagi. Akhirnya peluit berbunyi untuk kesekian kalinya, kami kembali ketempat kami memasak. Kami mulai merasa sedikit lebih baikan karena tugas pokok sudah terselesaikan. Kamipun sudah membayangkan menikmati kopi buatan bersama. Sayang dewi fortuna tidak berpihak kepada kami. Senyum yang berkembang diwajah kami layu sudah,kami melihat secangkir besar kopi kami tumpah. Tak sedikit dari teman-teman saya yang menggerutu. Kami pun tak jadi menikmatinya. Seorang senior menghampiri, “Dek kopinya kog gak diminum?”tanyanya. Pimpinan regu kami pun menjawab “Maaf kak kopinya tumpah.” Raut wajah sang pimpinan regupun menampakkan rasa takutnya, jika senior kami itu marah. Lalu salah satu teman saya menyambar pembicaraan,”Tadi disenggol kakinya senior Martin”. “Oh ya sudah kalau begitu dek.” Ucap senior kami itu sembari berlalu.
            Kami pun masih menggerutu satu sama lain, mengenai nasib malang yang menimpa regu kami. Salah seorang teman dari regu lain menghampiri kami. “Tadi Caca sama Carla jatuh loo… Caca sampai nangis kayaknya pundaknya ada yang bermasalah deh.”ucapnya pada kami, kamipun sontak kaget. Dan saling melempar tanya mengapa itu bisa terjadi. Rumor yang bergaung di telinga kami dan dibicarakan sebagian peserta survival bahwa tempat itu berhantu. Banyak kisah-kisah menyeramkan yang menyusul setelahnya. Dikabarkan bahwa satu per satu peserta survival, tidak diketahui keberadaannya. Hal ini membuat kami semua berspekulasi yang tidak-tidak. Kami hampir kehilangan akal kami, beberapa teman mulai histeris. Sungguh ini memperkeruh keadaan dan sama sekali tidak membantu. Kepanikan tidak hanya kami yang merasakannya. Senior kami, yang menjadi penyelenggara pertama agenda  survival ini juga turut panik dan khawatir. Senior laki-laki berpencar menelusup setiap seluk-beluk tempat ini untuk mencari teman yang hilang. Suasana menjadi sangat mencekam,suara jangkrik mulai menyeruak seakan-akan ia menjadi suara makhluk yang lebih besar dibanding manusia. Tiba-tiba suara teriakan kembali terdengar kencang. Salsa mencoba menghampirinya dan ternyata dia melihat sesosok makhluk yang belum pernah ia lihat. Salsa kembali, dan menyeritakan seluruh kejadian yang dia lihat. “Aku melihat Cherly diseret-seret oleh sosok yang tak pernah ku lihat sebelumnya, tapi aku tak sanggup berbuat apapun untuk membantunya aku terlalu takut dan lemah”ucapnya dengan nada ketakuatan, Suasana menjadi sangat runyam. Ketika Salsa hendak menenangkan diri, ia berteriak-teriak layaknya orang yang kehilangan akal sehatnya. Para seniorpun ikut panik, diperkirakan Salsa keserupan, dari kejauhan juga terdengar suara yang sama. Dan hal ini terjadi pada setiap regu. Pada saat semua orang mulai panik dan berusaha menyelamatkan diri. Salah satu temanku terjerumus dalam jurang.
Arlan mencoba membantunya, tapi apa daya itu sia-sia. Kami berlari dengan kencang, di tengah perjalanan kami melihat sesosok makhluk yang nampak aneh. Bentuknya yang menyeramkan, berpakaian putih-putih dan hanya seperti bayangan,kami semakin cemas. Disusul  dengan suara-suara aneh yang mulai terdengar di telinga kami, sontak kami saling pandang dan berlari lebih kencang menuju tempat yang kami rasa aman dari hal-hal seperti itu. Setibanya kami di tempat yang jauh dari tempat itu kami menemukan mushola kecil, kamipun segela berwudlu dan meminta pertolongan kepada-Nya, setelahnya kami sadari lima teman kami tidak ada diperkirakan hilang bersama gelapnya malam itu. Para seniorpun bergegas memanggil para pembina. Malam itu menjadi malam penuh duka. Setelah kami sampai di bumi perkemahan, teman-teman disana nampaknya sudah mendengar kabar mengerikan itu. Mereka berkerumun di dekat kami, dengan menanyakan sederet pertanyaan rasa ingin tahu. Kamipun mulai menceritkan yang sebenarnya. Terpancar dari raut wajah mereka tampak wajah-wajah ketakutan. Benar –benar malam itu kami semua tidak mampu memejamkan mata terlintas bayangan-bayangan mengerikan yang telah berlalu.
Setelah keesokan harinya perkemahan dibubarkan dan dibentuklah tim untuk mencari kelima anggota survival yang hilang. Sebelum pencarian dimulai, para  anggota tim mencari tahu mitos yang berada di tempat itu kepada penduduk desa. Ternyata benar lima belas tahun  yang  lalu tempat itu sering terjadi pembunuhan, dan dikabarkan sejak itu menjadi angker. Para penduduk juga sering melihat sosok-sosok gaib saat mereka ronda pada malam hari dan melintasi tempat itu,terkadang banyak orang yang kesurupan saat melewati tempatitu dalam keadaan melamun atau pikiran kosong. Setelah mendapat informasi tersebut tim mulai melakukan pencarian. Sampai tengah hari satupun korban belum ditemukan, hingga pada pukul 14.25WIB Cherly ditemukan.
Dari Cherly kami mendapat  informasi bahwa dirinya dibawa oleh sesosok makhluk yang tidak begitu jelas. Pencarian berlanjut, hingga sore hari ditemukan sosok mayat laki-laki yaitu Arman. Begitu tragis yang dialaminya. Sampai beberapa minggu pencarian tiga orang lainnya tidak diketahui keberadaanya. Akhirnya timpun menyerah, sampai saat ini misteri survival masih menjadi bahan pembicaraan, dan semakin memperkuat pendapat orang-orang bahwa tempat itu berhantu.
Enam bulan kemudian terdengar kabar bahwa ditempat itu terjadi pemerkosaan dan korban di bunuh. “Malam setelah itu para penduduk mendengar suara rintihan dekat pemakaman tua”, ucap kepala desa. Sejak saat itu penduduk desa sepakat memberi nama tempat itu Area Terlarang.


oleh: herlina