I
|
ni
bukan hal terluar biasa di dunia, tapi ini mampu membuat mata saya terbuka,
bahwa banyak sekali hal di dunia ini yang belum saya tahu dan saya jalani. Ini
saat dimana saya dituntut mampu sekalipun dunia gelap. Entah itu jurang atau
bukit, saya tidak peduli. Itu malam sunyi dimana saya dan teman-teman saya
terkejut dan ketakutan di dalam dinginnya malam. Awal dari kisah yang
menegangkanpun dimulai. Malam itu sepenggal dari sejumlah agenda yang akan
diadakan dalam perkemahan dimana saya dan teman-teman lainnya menjadi anggota
pramuka. Tujuan dari agenda kegiatan yang satu ini adalah melatih kami untuk
bertahan hidup dengan bekal terbatas untuk kebutuhan satu regu.
Seperti
agenda perkemahan di sekolah menengah pertama pada umumnya ,perkemahan kali itu
diisi dengan agenda outbond,mencari jejak,mendirikan tenda, permainan dan
diakhiri dengan pesta api unggun. Itu adalah malam pertama perkemahan kami,
setelah sesi istirahat, shalat, makan atau sering disebut ishoma yang diisi
dengan mandi dan makan, kami kembali ke bumi perkemahan. Kami kira setelahnya
akan diadakan api unggun, tapi ternyata tidak. Malam itu akan diisi dengan
pentas seni para peserta perkemahan, baik kelas tujuh maupun kelas delapan.
Menjelang acara pentas seni akan dimulai ada beberapa senior yang memanggil
sebagian dari anak kelas delapan. Dan saat itu kami belum tahu alasannya untuk
apa, setelah diberi pengarahan ternyata kami di ambil untuk mengikuti sesi survival.
Kami adalah peserta survival periode
pertama, karena agenda survival ini
baru diselenggrakan untuk yang pertama kalinya. Hal ini cukup membuat kami
merasa takut. Kami serasa seperti anggota tentara karena wajah kami di lumuri
dengan entah apa itu namanya sehingga menjadi hitam semua. Seniorpun
mengharuskan kami menggunakan jaket besar berwarna hitam pula. Setelah
keperluan sudah siap kami berkumpul,
terasa sangat kental campuran antara penasaran, takut, tegang, khawatir, dan
tertantang. Senior mengajak kami
berjalan melewati jalan desa dan memasuki suatu area yang dipenuhi pohon-pohon
besar. Lahan itu memiliki kontur yang terjal, jurang yang cukup curam dan
bersinggungan langsung dengan pagar kuburan tua. Kegiatan pokok dari agenda survival adalah membuat mie dan kopi
untuk beregu. Namun senior memberikan peraturan tambahan bahwa apabila kami
mendengar bunyi peluit, itu tandanya bahwa kami harus segera bersembunyi. Dan
bila mendegar bunyi peluit lagi itu tandanya harus kembali. Permainan di mulai.
Kami
mulai memasak mie instan dengan peralatan yang telah kami bawa. Tiba- tiba terdengar
suara peluit, kami langsung bersembunyi tanpa memikirkan masakan kami. Dari
tempat persembunyian yang berbeda antar anggota yang lain, saya melihat
secercah cahaya terang merah kekuning-kuningan mirip warna api. Tapi saya masih
tetap di persembunyian saya tanpa melakukan apapun. Bunyi peluit kedua, kami
kembali ke tempat dimana kami memasak dan ternyata kain yang menjadi salah satu
peralatan survival milik Marta
terbakar. Ia pun menangis. Kamipun menenangkannya. Tapi ternyata ada alasan
lain di balik tangisannya yang tidak kami ketahui. Itu adalah kain peninggalan
dari neneknya. Kami benar-benar merasa bersalah atas kainnya, tapi bagaimana
lagi itu semua sudah terjadi. Ia pun mulai mengerti bahwa ini diluar kendali
kami. Kamipun memakan hasil masakan kami. Mungkin jika ini bukan agenda survival, dan ada makanan lain, kami
tidak akan memakan mie buatan kami ini. Mengenaskan. Mie kami bercampur dengan
entah itu tanah, pasir atau hal lainnya. Tak tahan kami dengan perut yang belum
terisi makanan apapun,akhirnya mie yang masih berserakan di atas piring kami
makan sedikit. Setelah beberapa saat disadari perut kami terasa mual karena
sebenarnya mie tadi belum masak betul,akhirnya kami membuang sisa mie tersebut,
dengan harapan tidak diketahui siapapun selain anggota kami.
Kami ketahuan. “Dek kenapa makanan ini
dibuang, ini itu makanan dek tidak untuk dibuang dengan percuma. Apa kalian
tidak bersyukur masih bisa makan, sementara di luar sana masih banyak orang
yang berhari-hari belum makan”, ucap salah satu senior perempuan. Wajah kami
tegang dan tak mampu menjawab sederet pertanyaan itu. Tetapi dalam lubuk hati
kami menjawab sendainya kakak mengerti apa yang terjadi pada makanan kami, kami
yakin kakak pasti juga tidak akan
memakannya. Setelah kami terdiam beberapa saat, akhirnya sang senior pergi
meninggalkan regu kami, kami merasa begitu lega.
Selanjutnya
adalah waktunya kami membuat kopi untuk menghangatkan badan. Maklum saja kami
bersurvival di malam hari di tengah
pepohonan besar dan angin bertiup dengan
begitu dinginnya. Dengan sisa air yang ada kami membuat kopi. Saat sudah
selesai dan siap di minum peluit seniorpun berbunyi, kami bergegas bersembunyi
. Dalam keadaan berlari mencari persembunyian hati saya berkata semoga hal yang
tak kami inginkan tak terjadi lagi. Akhirnya peluit berbunyi untuk kesekian
kalinya, kami kembali ketempat kami memasak. Kami mulai merasa sedikit lebih
baikan karena tugas pokok sudah terselesaikan. Kamipun sudah membayangkan
menikmati kopi buatan bersama. Sayang dewi fortuna tidak berpihak kepada kami.
Senyum yang berkembang diwajah kami layu sudah,kami melihat secangkir besar
kopi kami tumpah. Tak sedikit dari teman-teman saya yang menggerutu. Kami pun
tak jadi menikmatinya. Seorang senior menghampiri, “Dek kopinya kog gak diminum?”tanyanya.
Pimpinan regu kami pun menjawab “Maaf kak kopinya tumpah.” Raut wajah sang
pimpinan regupun menampakkan rasa takutnya, jika senior kami itu marah. Lalu
salah satu teman saya menyambar pembicaraan,”Tadi disenggol kakinya senior
Martin”. “Oh ya sudah kalau begitu dek.” Ucap senior kami itu sembari berlalu.
Kami
pun masih menggerutu satu sama lain, mengenai nasib malang yang menimpa regu
kami. Salah seorang teman dari regu lain menghampiri kami. “Tadi Caca sama
Carla jatuh loo… Caca sampai nangis kayaknya pundaknya ada yang bermasalah
deh.”ucapnya pada kami, kamipun sontak kaget. Dan saling melempar tanya mengapa
itu bisa terjadi. Rumor yang bergaung di telinga kami dan dibicarakan sebagian
peserta survival bahwa tempat itu
berhantu. Banyak kisah-kisah menyeramkan yang menyusul setelahnya. Dikabarkan
bahwa satu per satu peserta survival,
tidak diketahui keberadaannya. Hal ini membuat kami semua berspekulasi yang
tidak-tidak. Kami hampir kehilangan akal kami, beberapa teman mulai histeris.
Sungguh ini memperkeruh keadaan dan sama sekali tidak membantu. Kepanikan tidak
hanya kami yang merasakannya. Senior kami, yang menjadi penyelenggara pertama
agenda survival ini juga turut panik dan khawatir. Senior laki-laki
berpencar menelusup setiap seluk-beluk tempat ini untuk mencari teman yang
hilang. Suasana menjadi sangat mencekam,suara jangkrik mulai menyeruak
seakan-akan ia menjadi suara makhluk yang lebih besar dibanding manusia.
Tiba-tiba suara teriakan kembali terdengar kencang. Salsa mencoba menghampirinya
dan ternyata dia melihat sesosok makhluk yang belum pernah ia lihat. Salsa
kembali, dan menyeritakan seluruh kejadian yang dia lihat. “Aku melihat Cherly
diseret-seret oleh sosok yang tak pernah ku lihat sebelumnya, tapi aku tak
sanggup berbuat apapun untuk membantunya aku terlalu takut dan lemah”ucapnya
dengan nada ketakuatan, Suasana menjadi sangat runyam. Ketika Salsa hendak
menenangkan diri, ia berteriak-teriak layaknya orang yang kehilangan akal
sehatnya. Para seniorpun ikut panik, diperkirakan Salsa keserupan, dari
kejauhan juga terdengar suara yang sama. Dan hal ini terjadi pada setiap regu.
Pada saat semua orang mulai panik dan berusaha menyelamatkan diri. Salah satu
temanku terjerumus dalam jurang.
Arlan
mencoba membantunya, tapi apa daya itu sia-sia. Kami berlari dengan kencang, di
tengah perjalanan kami melihat sesosok makhluk yang nampak aneh. Bentuknya yang
menyeramkan, berpakaian putih-putih dan hanya seperti bayangan,kami semakin
cemas. Disusul dengan suara-suara aneh
yang mulai terdengar di telinga kami, sontak kami saling pandang dan berlari
lebih kencang menuju tempat yang kami rasa aman dari hal-hal seperti itu.
Setibanya kami di tempat yang jauh dari tempat itu kami menemukan mushola
kecil, kamipun segela berwudlu dan meminta pertolongan kepada-Nya, setelahnya
kami sadari lima teman kami tidak ada diperkirakan hilang bersama gelapnya
malam itu. Para seniorpun bergegas memanggil para pembina. Malam itu menjadi
malam penuh duka. Setelah kami sampai di bumi perkemahan, teman-teman disana
nampaknya sudah mendengar kabar mengerikan itu. Mereka berkerumun di dekat
kami, dengan menanyakan sederet pertanyaan rasa ingin tahu. Kamipun mulai
menceritkan yang sebenarnya. Terpancar dari raut wajah mereka tampak
wajah-wajah ketakutan. Benar –benar malam itu kami semua tidak mampu memejamkan
mata terlintas bayangan-bayangan mengerikan yang telah berlalu.
Setelah
keesokan harinya perkemahan dibubarkan dan dibentuklah tim untuk mencari kelima
anggota survival yang hilang. Sebelum
pencarian dimulai, para anggota tim
mencari tahu mitos yang berada di tempat itu kepada penduduk desa. Ternyata
benar lima belas tahun yang lalu tempat itu sering terjadi pembunuhan,
dan dikabarkan sejak itu menjadi angker. Para penduduk juga sering melihat
sosok-sosok gaib saat mereka ronda pada malam hari dan melintasi tempat
itu,terkadang banyak orang yang kesurupan saat melewati tempatitu dalam keadaan
melamun atau pikiran kosong. Setelah mendapat informasi tersebut tim mulai
melakukan pencarian. Sampai tengah hari satupun korban belum ditemukan, hingga
pada pukul 14.25WIB Cherly ditemukan.
Dari
Cherly kami mendapat informasi bahwa
dirinya dibawa oleh sesosok makhluk yang tidak begitu jelas. Pencarian
berlanjut, hingga sore hari ditemukan sosok mayat laki-laki yaitu Arman. Begitu
tragis yang dialaminya. Sampai beberapa minggu pencarian tiga orang lainnya
tidak diketahui keberadaanya. Akhirnya timpun menyerah, sampai saat ini misteri
survival masih menjadi bahan
pembicaraan, dan semakin memperkuat pendapat orang-orang bahwa tempat itu
berhantu.
Enam
bulan kemudian terdengar kabar bahwa ditempat itu terjadi pemerkosaan dan
korban di bunuh. “Malam setelah itu para penduduk mendengar suara rintihan
dekat pemakaman tua”, ucap kepala desa. Sejak saat itu penduduk desa sepakat memberi
nama tempat itu Area Terlarang.
oleh: herlina
Tidak ada komentar:
Posting Komentar