Senin, 16 Februari 2015

Survival


I
ni bukan hal terluar biasa di dunia, tapi ini mampu membuat mata saya terbuka, bahwa banyak sekali hal di dunia ini yang belum saya tahu dan saya jalani. Ini saat dimana saya dituntut mampu sekalipun dunia gelap. Entah itu jurang atau bukit, saya tidak peduli. Itu malam sunyi dimana saya dan teman-teman saya terkejut dan ketakutan di dalam dinginnya malam. Awal dari kisah yang menegangkanpun dimulai. Malam itu sepenggal dari sejumlah agenda yang akan diadakan dalam perkemahan dimana saya dan teman-teman lainnya menjadi anggota pramuka. Tujuan dari agenda kegiatan yang satu ini adalah melatih kami untuk bertahan hidup dengan bekal terbatas untuk kebutuhan satu regu.
Seperti agenda perkemahan di sekolah menengah pertama pada umumnya ,perkemahan kali itu diisi dengan agenda outbond,mencari jejak,mendirikan tenda, permainan dan diakhiri dengan pesta api unggun. Itu adalah malam pertama perkemahan kami, setelah sesi istirahat, shalat, makan atau sering disebut ishoma yang diisi dengan mandi dan makan, kami kembali ke bumi perkemahan. Kami kira setelahnya akan diadakan api unggun, tapi ternyata tidak. Malam itu akan diisi dengan pentas seni para peserta perkemahan, baik kelas tujuh maupun kelas delapan. Menjelang acara pentas seni akan dimulai ada beberapa senior yang memanggil sebagian dari anak kelas delapan. Dan saat itu kami belum tahu alasannya untuk apa, setelah diberi pengarahan ternyata kami di ambil untuk mengikuti  sesi survival. Kami adalah peserta survival periode pertama, karena agenda survival ini baru diselenggrakan untuk yang pertama kalinya. Hal ini cukup membuat kami merasa takut. Kami serasa seperti anggota tentara karena wajah kami di lumuri dengan entah apa itu namanya sehingga menjadi hitam semua. Seniorpun mengharuskan kami menggunakan jaket besar berwarna hitam pula. Setelah keperluan sudah siap  kami berkumpul, terasa sangat kental campuran antara penasaran, takut, tegang, khawatir, dan tertantang.    Senior mengajak kami berjalan melewati jalan desa dan memasuki suatu area yang dipenuhi pohon-pohon besar. Lahan itu memiliki kontur yang terjal, jurang yang cukup curam dan bersinggungan langsung dengan pagar kuburan tua. Kegiatan pokok dari agenda survival adalah membuat mie dan kopi untuk beregu. Namun senior memberikan peraturan tambahan bahwa apabila kami mendengar bunyi peluit, itu tandanya bahwa kami harus segera bersembunyi. Dan bila mendegar bunyi peluit lagi itu tandanya harus kembali. Permainan di mulai.
Kami mulai memasak mie instan dengan peralatan yang telah kami bawa. Tiba- tiba terdengar suara peluit, kami langsung bersembunyi tanpa memikirkan masakan kami. Dari tempat persembunyian yang berbeda antar anggota yang lain, saya melihat secercah cahaya terang merah kekuning-kuningan mirip warna api. Tapi saya masih tetap di persembunyian saya tanpa melakukan apapun. Bunyi peluit kedua, kami kembali ke tempat dimana kami memasak dan ternyata kain yang menjadi salah satu peralatan survival milik Marta terbakar. Ia pun menangis. Kamipun menenangkannya. Tapi ternyata ada alasan lain di balik tangisannya yang tidak kami ketahui. Itu adalah kain peninggalan dari neneknya. Kami benar-benar merasa bersalah atas kainnya, tapi bagaimana lagi itu semua sudah terjadi. Ia pun mulai mengerti bahwa ini diluar kendali kami. Kamipun memakan hasil masakan kami. Mungkin jika ini bukan agenda survival, dan ada makanan lain, kami tidak akan memakan mie buatan kami ini. Mengenaskan. Mie kami bercampur dengan entah itu tanah, pasir atau hal lainnya. Tak tahan kami dengan perut yang belum terisi makanan apapun,akhirnya mie yang masih berserakan di atas piring kami makan sedikit. Setelah beberapa saat disadari perut kami terasa mual karena sebenarnya mie tadi belum masak betul,akhirnya kami membuang sisa mie tersebut, dengan harapan tidak diketahui siapapun selain anggota kami.
 Kami ketahuan. “Dek kenapa makanan ini dibuang, ini itu makanan dek tidak untuk dibuang dengan percuma. Apa kalian tidak bersyukur masih bisa makan, sementara di luar sana masih banyak orang yang berhari-hari belum makan”, ucap salah satu senior perempuan. Wajah kami tegang dan tak mampu menjawab sederet pertanyaan itu. Tetapi dalam lubuk hati kami menjawab sendainya kakak mengerti apa yang terjadi pada makanan kami, kami yakin kakak pasti  juga tidak akan memakannya. Setelah kami terdiam beberapa saat, akhirnya sang senior pergi meninggalkan regu kami, kami merasa begitu lega.
Selanjutnya adalah waktunya kami membuat kopi untuk menghangatkan badan. Maklum saja kami bersurvival di malam hari di tengah pepohonan  besar dan angin bertiup dengan begitu dinginnya. Dengan sisa air yang ada kami membuat kopi. Saat sudah selesai dan siap di minum peluit seniorpun berbunyi, kami bergegas bersembunyi . Dalam keadaan berlari mencari persembunyian hati saya berkata semoga hal yang tak kami inginkan tak terjadi lagi. Akhirnya peluit berbunyi untuk kesekian kalinya, kami kembali ketempat kami memasak. Kami mulai merasa sedikit lebih baikan karena tugas pokok sudah terselesaikan. Kamipun sudah membayangkan menikmati kopi buatan bersama. Sayang dewi fortuna tidak berpihak kepada kami. Senyum yang berkembang diwajah kami layu sudah,kami melihat secangkir besar kopi kami tumpah. Tak sedikit dari teman-teman saya yang menggerutu. Kami pun tak jadi menikmatinya. Seorang senior menghampiri, “Dek kopinya kog gak diminum?”tanyanya. Pimpinan regu kami pun menjawab “Maaf kak kopinya tumpah.” Raut wajah sang pimpinan regupun menampakkan rasa takutnya, jika senior kami itu marah. Lalu salah satu teman saya menyambar pembicaraan,”Tadi disenggol kakinya senior Martin”. “Oh ya sudah kalau begitu dek.” Ucap senior kami itu sembari berlalu.
            Kami pun masih menggerutu satu sama lain, mengenai nasib malang yang menimpa regu kami. Salah seorang teman dari regu lain menghampiri kami. “Tadi Caca sama Carla jatuh loo… Caca sampai nangis kayaknya pundaknya ada yang bermasalah deh.”ucapnya pada kami, kamipun sontak kaget. Dan saling melempar tanya mengapa itu bisa terjadi. Rumor yang bergaung di telinga kami dan dibicarakan sebagian peserta survival bahwa tempat itu berhantu. Banyak kisah-kisah menyeramkan yang menyusul setelahnya. Dikabarkan bahwa satu per satu peserta survival, tidak diketahui keberadaannya. Hal ini membuat kami semua berspekulasi yang tidak-tidak. Kami hampir kehilangan akal kami, beberapa teman mulai histeris. Sungguh ini memperkeruh keadaan dan sama sekali tidak membantu. Kepanikan tidak hanya kami yang merasakannya. Senior kami, yang menjadi penyelenggara pertama agenda  survival ini juga turut panik dan khawatir. Senior laki-laki berpencar menelusup setiap seluk-beluk tempat ini untuk mencari teman yang hilang. Suasana menjadi sangat mencekam,suara jangkrik mulai menyeruak seakan-akan ia menjadi suara makhluk yang lebih besar dibanding manusia. Tiba-tiba suara teriakan kembali terdengar kencang. Salsa mencoba menghampirinya dan ternyata dia melihat sesosok makhluk yang belum pernah ia lihat. Salsa kembali, dan menyeritakan seluruh kejadian yang dia lihat. “Aku melihat Cherly diseret-seret oleh sosok yang tak pernah ku lihat sebelumnya, tapi aku tak sanggup berbuat apapun untuk membantunya aku terlalu takut dan lemah”ucapnya dengan nada ketakuatan, Suasana menjadi sangat runyam. Ketika Salsa hendak menenangkan diri, ia berteriak-teriak layaknya orang yang kehilangan akal sehatnya. Para seniorpun ikut panik, diperkirakan Salsa keserupan, dari kejauhan juga terdengar suara yang sama. Dan hal ini terjadi pada setiap regu. Pada saat semua orang mulai panik dan berusaha menyelamatkan diri. Salah satu temanku terjerumus dalam jurang.
Arlan mencoba membantunya, tapi apa daya itu sia-sia. Kami berlari dengan kencang, di tengah perjalanan kami melihat sesosok makhluk yang nampak aneh. Bentuknya yang menyeramkan, berpakaian putih-putih dan hanya seperti bayangan,kami semakin cemas. Disusul  dengan suara-suara aneh yang mulai terdengar di telinga kami, sontak kami saling pandang dan berlari lebih kencang menuju tempat yang kami rasa aman dari hal-hal seperti itu. Setibanya kami di tempat yang jauh dari tempat itu kami menemukan mushola kecil, kamipun segela berwudlu dan meminta pertolongan kepada-Nya, setelahnya kami sadari lima teman kami tidak ada diperkirakan hilang bersama gelapnya malam itu. Para seniorpun bergegas memanggil para pembina. Malam itu menjadi malam penuh duka. Setelah kami sampai di bumi perkemahan, teman-teman disana nampaknya sudah mendengar kabar mengerikan itu. Mereka berkerumun di dekat kami, dengan menanyakan sederet pertanyaan rasa ingin tahu. Kamipun mulai menceritkan yang sebenarnya. Terpancar dari raut wajah mereka tampak wajah-wajah ketakutan. Benar –benar malam itu kami semua tidak mampu memejamkan mata terlintas bayangan-bayangan mengerikan yang telah berlalu.
Setelah keesokan harinya perkemahan dibubarkan dan dibentuklah tim untuk mencari kelima anggota survival yang hilang. Sebelum pencarian dimulai, para  anggota tim mencari tahu mitos yang berada di tempat itu kepada penduduk desa. Ternyata benar lima belas tahun  yang  lalu tempat itu sering terjadi pembunuhan, dan dikabarkan sejak itu menjadi angker. Para penduduk juga sering melihat sosok-sosok gaib saat mereka ronda pada malam hari dan melintasi tempat itu,terkadang banyak orang yang kesurupan saat melewati tempatitu dalam keadaan melamun atau pikiran kosong. Setelah mendapat informasi tersebut tim mulai melakukan pencarian. Sampai tengah hari satupun korban belum ditemukan, hingga pada pukul 14.25WIB Cherly ditemukan.
Dari Cherly kami mendapat  informasi bahwa dirinya dibawa oleh sesosok makhluk yang tidak begitu jelas. Pencarian berlanjut, hingga sore hari ditemukan sosok mayat laki-laki yaitu Arman. Begitu tragis yang dialaminya. Sampai beberapa minggu pencarian tiga orang lainnya tidak diketahui keberadaanya. Akhirnya timpun menyerah, sampai saat ini misteri survival masih menjadi bahan pembicaraan, dan semakin memperkuat pendapat orang-orang bahwa tempat itu berhantu.
Enam bulan kemudian terdengar kabar bahwa ditempat itu terjadi pemerkosaan dan korban di bunuh. “Malam setelah itu para penduduk mendengar suara rintihan dekat pemakaman tua”, ucap kepala desa. Sejak saat itu penduduk desa sepakat memberi nama tempat itu Area Terlarang.


oleh: herlina

Tidak ada komentar:

Posting Komentar