Surat Terakhir
Sisa air hujan masih
terasa basah di halaman rumah berdinding biru muda. Halaman luas itu masih
tampak segar menggeliat oleh sinar matahari yang mulai mengguyur. Disekitar
rumah pohon-pohon mulai menampakkan diri, setelah sekian waktu kabut pagi
enggan untuk pergi. Satu pohon yang menjulang tinggi mulai mengeringkan daunnya yang basah oleh derai air hujan.
Matahari mulai menjamah setiap helai daunnya. Burung-burung sibuk menari dari
dahan satu ke dahan lainnya, seakan bertugas meramaikan upacara pagi. Beberapa yang
lain telah pergi menncari makan karena hujan bulan Januari bisa sewaktu-waktu
mengusirnya untuk segera kembali ke sarang.
Pagi itu seorang anak
belasan tahun meninggalkan kamar menuju ruang makan.
“Sugeng
enjang Pak, Bu”, sapa Nayla sembari tertawa ringan kepada kedua orang tuanya
“Sugeng enjang Nduk ”, kata ibu
sesaat setelah Nayla menyapa
Pagi
itu ibunya Nayla memasak makanan kesukaan Nayla yaitu nasi tiwul, pecel sama
ikan. Karena senangnya Nayla memakan makanan itu dengan lahapnya.
“Nduk-nduk makannya itu pelan-pelan saja udah persis maling dikejar
hansip, nanti kalau tersedak siapa yang mau bantu? Alon-alon penting kelakon cah ayu, kamu ini kaya gak pernah makan nasi
tiwul sama pecel saja Nduk”, gurau
bapak Nayla
Nayla hanya tersenyum
sambil memperbaiki cara makannya. Suasana hangat seperti itu selalu Nayla
dapatkan, bahkan kehangatan keluarganya sudah dimulai dari bangun tidur. Mereka
bertiga melaksanakan salat subuh berjamaah yang dipimpin bapak Nayla dan
melanjutkan mengaji.
Setelah
mereka selesai sarapan, Nayla dan bapakya berangkat. Nayla pergi ke sekolah
diantar oleh bapaknya yang kebetulan kantornya sejalur dengan lokasi sekolah
Nayla.
***
Pagi
itu ketika Nayla sampai di sekolah ia melihat teman-temannya di depan mading.
Mereka berebut tempat untuk melihat pengumuman. Sesekali ia melihat temannya
yang tersenyum lalu pergi setelah membaca
pengumuman, ada juga yang ber-yah sambil berlalu.
“Nay, selamat ya kamu
lolos” sapa sahabat Nayla. Namanya Surati, memang agak ndeso tapi cantiknya nomor satu di sekolah.
Nayla
mendapat kabar dari sahabatnya bahwa Nayla lolos dalam seleksi pra OSN sekolah
dua hari yang lalu, dan ia berhak mewakili sekolah untuk berjuang pada ajang
yang bergengsi itu. Nayla mengikuti OSN Fisika. Namun kabar buruknya Surati
belum lolos dalam seleksi itu. Nayla pun meghibur sahabatnya itu agar tak usah
bersedih hati, mungkin memang belum rezeki Surati. Lagi pula masih banyak
seleksi yang Surati bisa ikut, karena Nayla tahu sahabatnya itu punya bakat
tersendiri. Dulu Surati mewakili sekolahnya dalam bidang kesenian tari hingga
tingkat provinsi. Membuat harum nama sekolah dan tentunya kedua orang tuanya
sangat bangga karena memiliki anak yang berbakat. Tentu saja Nayla pada waktu
itu juga sangat bangga pada Surati, itulah yang semakin membuat Nayla
bercita-cita mengharumkan nama sekolah dan orang tuanya.
Tepat
pukul 07:00 WIB bel sekolah berdering, anak-anak memasuki ruang kelas
masing-masing. Mata pelajaran pertama Fisika, Nayla mendapat ucapan selamat
dari gurunya Pak Sugeng. Mulai hari itu
ia diberi tahu bahwa bimbingan dimulai seusai jam efektif berakhir. Pada jam 13:45 WIB Nayla menemui Pak Sugeng
untuk memulai bimbingan. Beberapa jam kemudian ia selesai.
Nayla
bermaksud tidak akan memberi tahu kabar bahagia ini kepada orang tuanya, ia
akan memberi tahu kabar ini ketika lolos seleksi berikutnya. Sesampainya di rumah
Nayla ditegur ibunya karena pulang terlambat.
“Nduk kenapa baru pulang? Ada jam tambahan apa tugas kelompok?”, tanya
Ibu Nayla
“Iya Bu, tadi ada tugas
kelompok dadakan harus diselesaikan”, jawab Nayla terpaksa berbohong
Nayla
lalu bergegas kekamarnya melepas kerudung, lalu berganti pakaian.
Keikutsertaanya dalam OSN memacunya untuk lebih giat belajar, waktunya dihabiskan di
kamar bersama tumpukan-tumpukan buku di meja belajarnya. Tanpa terasa jam di
kamar Nayla menunjukkan pukul 22:00 WIB. Nayla pun menghentikan belajarnya,
lalu tidur. Malam itu terdengar suara ibu membuka pintu kamar Nayla,
memastikannya telah selesai belajar. Ketika melihat Nayla yang sudah terbaring ibunya
menghampiri Nayla dan mencium lembut kening Nayla, kemudian mematikan lampu
kamar dan meninggalkan Nayla tertidur pulas.
***
Hari berganti hari
tanpa lelah Nayla terus berlatih, agar ia bisa memberikan yang terbaik karena
Nayla ingin semua bangga terhadapnya dan tanpa menggoreskan sedikitpun rasa
kecewa terutama pada Pak Sugeng yang telah membimbing Nayla. Biasanya Nayla
selesai bimbingan pukul setengah lima sore, sampai dirumah mandi, salat magrib,
mengaji, makan malam lalu salat isya dan setelah itu Nayla belajar hingga
dirinya kerap tertidur dan terbangun menjelang subuh berkumandang. Tanpa terasa
seminggu terakhir Nayla begitu jarang berkumpul bersama keluarga kecilnya
sehingga awal dari kisah yang menimpa keluarganya tak ia sadari. Nayla
benar-benar hanya terfokus pada OSN. Di suatu pagi Nayla bertanya pada ibunya kenapa
pagi itu bapaknya tidak ikut sarapan seperti biasanya.
“Bapak kemana Bu, dari
tadi Nay gak lihat, sepagi ini masak sudah
pergi gak kaya biasanya”, tanya Nayla pada ibunya.
“Emm, Bapak kerumah Pakde Suryo katanya mau nyelesain urusan sama ada tugas dari
kantor”, jawab ibu Nayla yang terpaksa berbohong pada anak satu-satunya itu,
sebenarnya ibunya juga tidak tahu kemana bapaknya pergi itu hanya pesan singkat
yang di dapat ibunya Nayla subuh tadi. Setelah sarapan itu selesai Nayla meminta
izin pada ibunya untuk berangkat lebih awal.
Setiap hari Jumat Nayla
memang harus berangkat lebih pagi untuk bimbingan, karena siangnya Pak Sugeng tidak
bisa.
“Nay, kamu sudah bicara
pada orang tuamu tentang OSN ini?”, tanya Pak Sugeng
“Belum Pak, soalnya saya bermaksud memberi
kejutan pada orang tua saya, saya akan memberi tahu jika saya lolos seleksi
berikutnya, saya ingin membanggakan mereka. Terutama bapak saya, beliau sudah
membanting tulang agar saya bisa sekolah disini, beliau merupakan tokoh yang
saya idolakan selain ibu”, jawab Nayla
“Nayla pancen bekti sliramu, muga kawujud dening
Gusti Allah”, kata Pak Sugeng.
“Amin”, jawab Nayla
sambil mengerjakan soal yang diberikan Pak Sugeng
***
Sepulangnya
Nayla, ia melihat motor bapaknya terparkir di halaman rumah. Ia merasa senang
karena Minggu ini Nayla akan di ajak berlibur ke rumah Pakde Suryo. Berkeliling Waduk Gajah Mungkur, pergi ke persawahan Pakde Suryo, itulah yang dijanjikan
bapaknya Nayla tiga minggu yang lalu. Nayla pun mempercepat langkah kakinya
hingga sampai di dalam rumah.
“Assalamu’alaikum Bapak,
besuk Nay jadi diajak ke rumah Pakde
Suryo kan? Nay pengen ke Waduk Gajah Mungkur, rumah Pakde kan gak jauh dari sana”, tanya Nayla tidak sabar
“Wa’alaikumsalam, eh Genduk yang cantik ini sudah pulang. Tapi Bapak minta
maaf besuk Bapak belum bisa, masih ada tugas dari kantor lagi pula Pakde Suryo masih sibuk macul di sawah”, jawab bapak
“Besuk kan hari libur,
tumben Bapak ada tugas dari kantor?”, tanya Nayla
Bapaknya
hanya tersenyum sambil berlalu dan menghidupkan motornya kemudian pergi lagi.
Nayla memaklumi bapaknya yang pergi waktu itu. Siang itu Nayla menyempatkan
membantu ibunya membereskan rumah, setelah itu ia beristirahat di kamarnya.
Menit
berganti jam, jam berganti hari dan dua hari sudah Nayla tidak melihat bapaknya
di rumah. Pada malam kedua semenjak ketidakhadiran bapaknya di rumah, Nayla
terbangun dari lelap tidurya karena tak tahan ingin ke kamar mandi padahal jam
waker kamarnya baru menunjukkan pukul 2 dini hari. Dengan rasa kantuk yang
menggelayut di mata Nayla, ia beranjak dari tempat tidurnya dan membuka pintu
kamar lalu berjalan menuju kamar mandi. Ketika Nayla melewati ruang tamu, ia
melihat ibunya tertidur di sofa.
“Tumben banget Ibu tidur di sofa, Bapak apa
belum pulang yah?”, ujar Nayla lirih
Nayla tak tega membangunkan ibunya, tapi Nayla
juga tidak tega membiarkan ibunya tertidur di sofa kedinginan. Akhirnya Nayla
melangkahkan kaki menuju kamar ibunya untuk mengambilkan selimut dan bantal
lalu memakaikannya. Nayla masih tak tega meninggalkan ibunya sendirian, ia pun
memutuskan menemani ibunya tidur di sofa.
Keesokan
harinya ibu Nayla membangunkan Nayla untuk melaksanakan salat subuh. Nayla pun bangkit dan bergegas mengambil air
wudlu. Pagi itu Nayla yang memimpin salat subuh seusai salat lalu berdoa dan
mengaji seperti biasa. Setelah Nayla dan ibunya salat subuh berjamaah ia
bertanya pada ibunya “Bu kenapa semalam tidur di sofa Bapak gak pulang kerumah
ya, Ibu menunggu Bapak?”
“Gak kok cah ayu, semalam ibu ketiduran. Bapakmu
sudah berangkat sebelum kamu terbangun beliau tak tega membangunkanmu yang
sedang tertidur pulas”, jawab ibunya
Entah apa yang terjadi
pada ibunya Nayla, namun Nayla tak bisa memaksa ibunya untuk cerita padanya.
Ibunya Nayla mulai terdiam setelah putrinya itu melontarkan pertanyaan yang
tidak bisa dijawab. Tapi Nayla tahu pasti ibunya berbohong, semalam Nayla tidak
melihat bapaknya saat Nayla mengambilkan selimut untuk ibunya di kamar.
Setelah
perbincangan itu selesai. Nayla lalu mandi,sarapan dan pergi ke sekolah. Itulah
rutinitas yang selalu Nayla lakukan. Disekolah Nayla menceritakan apa yang
dilihatnya semalam kepada sahabat karibnya Surati, karena baru kali ini Nayla
melihat ibunya tertidur di sofa.
“Mungkin memang benar Nay Ibumu ketiduran jangan
suudzon dulu deh” ujar Surati
Perbincangan mereka
terhenti karena bel pulang sekolah berdering. Hari itu Nayla minta izin kepada
Pak Sugeng untuk tidak bimbingan.
Siang
itu mendung Nayla melangkah gontai keluar gerbang sekolah. Nayla menatap langit,
kelabu seperti suasana hatinya. Tetesan air hujan menimpa Nayla, satu tetes,
dua tetes. Di sekitar Nayla banyak orang berlari guna menghidari hujan, tapi
Nayla memilih berjalan lambat-lambat. Berharap tetesan air mata Nayla dapat
membaur dengan tetesan air matanya.
Tepat
di depan rumah Nayla mendengar suara bapaknya yang terlihat membentak ibunya.
Langkah Nayla pun semakin gontai. Di dalam rumah ia mendapati kenyataan bahwa
kedua orangtuanya sedang bertengkar hebat. Nayla mendapati bapaknya menampar
keras pipi ibunya. Setelah bapaknya melihat kehadiran Nayla, bapaknya Nayla
memalingkan muka lalu meninggalkan rumah lagi. Nayla memeluk erat ibunya, dan
menyuruh ibunya untuk menceritakan semuanya. Tetapi ibunya menolak dan
berjanji akan cerita. Namun ibunya
melepaskan pelukan Nayla lalu berlari ke kamar dan menutup pintu rapat-rapat.
Nayla memahami keadaan ibunya dan meninggalkannya sendirian . Sejak saat itu
pandangan Nayla kepada bapaknya mulai berubah, rasa benci mulai tumbuh di dada
Nayla. Tapi Nayla mencoba menghilangkannya karena bagaimana pun beliau adalah
bapak kandungnya.
Keluarga itu sudah tidak seindah dulu, kini mulai sering
merusak hingga ulu hati Nayla. Perasaan itu terasa sesak saat Nayla ingat
kembali raut wajah dan tatapaan bapaknya. Bagai simfoni membisu di suatu
keramaian, kini Nayla sendiri dalam sepi. Nayla terus mengikuti detak jarum jam
yang terdengar di ruangan yang semakin sunyi. Saat Nayla tersadar bahwa
semuanya semakin menjauh, hatinya pun semakin gelisah. Ia memutuskan menghampiri
sahabatnya Surati, kebetulan rumah Surati tak begitu jauh dari kediaman Nayla.
“Ada apa Nay kenapa
matamu sembab, nangisin apa?”, tanya Surati
“Aku mencoba tegar
sekenanya. Aku benci lelaki itu yang menampar keras pipi dekat telinga ibuku
dua kali. Alangkah durhakanya aku yang menginginkan perceraian kedua orang
tuaku”, sahut Nayla tanpa menjawab pertanyaan Surati sambil menangis lagi.
“Lho lho ana apa iki aku bingung,orang tuamu bertengkar?”, sahut Surati
“Iya, aku serasa
sendirian senja yang ku puja berdua bukan denganku. Dan malam tempat pelukan
dan peraduan di tawan nisan. Aku merindu kearifanmu”, ujar Nayla
“Nayla aku memang belum
tahu bagaimana cara mengatasi hal seperti ini, tapi yang aku tahu menangis
tidak akan menyelesaikan masalah, sebaiknya kamu ambil air wudlu dan meminta
petunjuk pada-Nya”, jawab Surati dengan
bijak
Nayla pun menganggukkan
kepala lalu pergi meninggalkan Surati.
“Sesulit inikah cara Tuhan mengujiku, aku
terseok di jalan yang sangat berkelok. Tak ada penghibur sesaatku di perjalanan,
tak adakah gang atau percabangan jalan yang berlapang hati menerima bahu rapuh
menyandar kala sedang berbelok” gumamnya dalam hati dalam perjalanan pulang
Sesampainya di rumah Nayla masih melihat
ibunya menutup diri dikamarnya, masih terdengar pula sisa isakan tangisnya.
Sampai saat ini pun Nayla masih belum mengerti apa yang menyebabkan keluarganya
berubah. Dulu bapak Nayla adalah seorang bapak yang menjadi pelabuhan hati
untuk Nayla dan ibunya. Nayla ingin seperti dulu bapak yang selalu membawa kebahagian, tak
pernah gentar menggorekan senyuman. Tak pernah terbayangkan bapaknya akan
seperti ini. Nayla kemudian mengambil air wudlu melakukan salat malam dan
mencoba untuk tertidur, berharap ini semua hanya mimpi buruk, walaupun dengan
mata terpejam namun Nayla masih saja mengeluarkan air mata, hingga akhirnya ia
benar-benar tertidur.
Selepas Nayla terbangun
rasanya dadanya berlubang, ditambah sejak beberapa hari terakhir ibu Nayla
tidak banyak bicara wajahnya pun tampak pucat. Kebahagian keluarga itu rumpang
sendirian. Banyak hati yang teronggok kapok.
Tak ada darah merah yang menyegarkan
sembab-sembabnya, ini sudah sangat lama sejak tawa lupa jalan Nayla yang
berduka. Mata Nayla menonjol dan menyatakan air matanya.
Tak berhenti hati Nayla
mengagumi kecantikan ibunya yang ada di depannya, matanya bening penuh dengan ketulusan,
tatapannya fokus penuh dengan keikhlasan, wajahnya yang putih mulus membuat
Nayla ingin bersujud di pipinya dan menyembah Tuhan seumur hidupnya, kecantikan
ibu Nayla ditambah dengan mengenakan kerudung dan menutup rapat mahkota
kepalanya, senyumnya yang manis yang selalu terlontar kepada sesamanya membuat
Nayla yakin bahwa mahkluk ini atau ibunya itu adalah mahluk yang harus
dilindungi dan tak pantas untuk disakiti. Tetapi malaikat pelindung itu pergi
dan menyakiti ibunya, seakan membawa pergi pula kebahagian Nayla dan ibunya. Karena
Nayla muak dengan semua yang terjadi Nayla memutuskan untuk menemui bapaknya entah
dimana ia bisa menemuinya.
“Bu, Nayla izin pergi
ke rumah Pakde Suryo ya, Nayla pengen
cari udara segar”, kata Nayla pada ibunya.
“Iya hati-hati ya Nduk, Ibu gak bisa nganter kamu”, jawab ibunya. Nayla hanya
menganggukan kepala mengiyakan ucapan ibunya. Nayla berangkat sendiri kerumah
Pakde Suryo yang terleak di selatan Kota Wonogiri dekat Waduk Gajah Mungkur.
Dari halte menunggu bus lima menit, satu jam kemudian ia sampai dan berjalan
menuju rumah Pakde Suryo.
“Assalamu’alaikum Mbokde, Pakde Suryo , ini Nay datang”, tegur Nayla pada mbokde dan pakdenya yang sedang mencabuti rumput di halaman rumah
“Wa’alaikumsalam, cah ayu ana apa iki? Kok ora ngabari Pakde
apa Mbokde yen arep mrene?”, tanya Pakde
Sugeng
“Mboten Pakde, sebenarnya Nay kesini selain kangen suasana desanya Pakde, juga mau tahu kemana Bapak pergi,
Bapak sekarang juga banyak berubah jadi kasar gak seperti yang Nay kenal dulu”,
tanya Nayla dengan wajah sedih
Pakde dan mbokde Nayla justru lempar pandang, seakan ada yang salah dengan
pertanyaan Nayla. Tanpa banyak bicara mbokde
Nayla masuk kedalam rumah. Sementara pakdenya
mengalihkan pembicaraan. Mengajak Nayla mengintari persawahan yang tidak jauh
dari rumah Pakde Suryo,tiga puluh
menit mereka berjalan-jalan akhirnya kembali lagi ke rumah Pakde Suryo. Beberapa saat mbokde
keluar dengan nampan yang berisi minuman dan kacang mete khas kota
Wonogiri. Mbokde Nayla mengeluarkan
secarik amplop warna putih dari saku
bajunya dan menyerahkannya pada Nayla. Nayla membuka amplop itu isinya selembar
kertas, sepertinya Nayla paham betul tulisan siapa yang sedang ia baca.
Ternyata memang benar itu surat dari bapak Nayla. Kata mbokdenya amplop itu dititipkan beberapa hari lalu saat bapaknya
berkunjung kesana. Mengejutkan hati dan pikiran Nayla secarik kertas itu mampu
membuatnya menangis menjadi-jadi. Pikiran dan hati Nayla kembali pada bapaknya
yang membuat ia dan keluarganya bahagia. Nayla menyesal sempat berpikir buruk
bahkan sempat membenci bapaknya itu.
“Ibu, Nayla jika kalian
berdua membaca surat ini mungkin Bapak sudah pergi jauh, dan mungkin tidak akan
kembali. Maafkan perlakuan Bapak yang sempat menampar Ibu, juga telah
membohongi Ibu bahwa Bapak akan menceraikan Ibu dengan alasan ada wanita lain
dihati Bapak. Maafkan Bapak, itu semua
bohong serta tamparan keras itu sengaja Bapak lakukan agar Nayla dan Ibu
membenci Bapak. Bapak terpaksa melakukan ini, Bapak tidak mau menyakiti kalian
berdua. Bapak mengidap kanker stadium akhir, kata dokter umur Bapak tidak lama.
Bapak tahu panjangnya umur hanya Tuhan yang tahu, tapi menyiapkan kemungkinan
terburuk bukanlah hal yang salah. Bapak tahu cara ini memang salah, namun ini
adalah hal yang terbaik. Akhirnya waktu ini tiba Bapak pergi. Untuk Nayla
jaga Ibu baik-baik ya Nduk, lindungi dia seperti Bapak menjaga
kalian. Nayla harus rajin belajar agar bisa mewujudkan cita-cita Nayla, buat Ibumu
bangga. Bapak pasti juga ikut bangga jika Nayla berhasil, bapak akan selalu
menjaga Nayla dari jauh”
Setelah
membaca surat itu Nayla meminta izin pada pakde
dan mbokdenya untuk pulang kerumah
memberikan kabar itu pada ibunya. Pakde
Nayla mengantar Nayla sampai ke halte.
Sesampainya
Nayla dirumah Nayla menyerahkan surat itu pada ibunya. Ibunya menangis sambil
mendekap erat Nayla. Petang itu juga mereka berdua salat bersama dan membacakan
doa-doa untuk bapaknya yang sudah meninggal.
***
Setelah
beberapa hari kesedihan itu mulai menghilang, tiba waktunya Nayla memberi tahu
ibunya tentang Olimpiade Sains Nasional itu, hari itu waktunya Nayla bertarung
Nayla diantar oleh Pak Sugeng ditemani ibunya. Babak demi babak dilalui Nayla
dengan penuh percaya diri, hingga beberapa jam setelahnya kabar baik itu datang
Nayla mendapat juara 2, walaupun tidak yang pertama tapi semua tetap bangga
terhadap Nayla. Wajah Nayla dan ibunya berlinang air mata mengingat kembali
bapak. Tapi mereka yakin di dunia yang berbeda bapak tersenyum bangga. Dalam benaknya
Nayla bergumam “Tuhan sampaikan padanya bahwa aku menyayanginya, bahwa aku
tidak akan menjadi apa-apa tanpanya. Tuhan sungguh aku berterima kasih padamu atas
semua anugerah terindah yang kau berikan ini. Dan terima kasih kau berikan aku
Ibu dan Bapak yang luar biasa. Terimakasih semuanya”
herlina